Setelah lama mengamati perilaku manusia, saya sampai pada sebuah perenungan sederhana: salah satu penghalang terbesar yang membuat seseorang sulit melampaui kondisi hidupnya adalah rasa kagum yang berlebihan.
Sekilas, kekaguman tampak seperti sesuatu yang positif. Namun, ketika kekaguman berubah menjadi keterpesonaan yang berlebihan, ia diam-diam menciptakan jarak antara diri kita dan apa yang kita kagumi.
Mengapa demikian?
Karena di balik kekaguman yang berlebihan sering tersembunyi sebuah pengakuan yang tidak disadari: “Aku tidak mungkin bisa menjadi seperti itu.”
Kekaguman yang Menciptakan Jarak
Bayangkan seseorang yang begitu mengagumi orang kaya.
Ia terus memuji keberhasilan orang tersebut, tetapi dalam batinnya tersimpan keyakinan bahwa kekayaan seperti itu bukan untuk dirinya. Tanpa sadar, ia telah menempatkan dirinya di bawah kondisi yang ia kagumi.
Hal yang sama dapat terjadi dalam dunia spiritual.
Seseorang bisa begitu mengagumi kebijaksanaan, ketenangan, atau tingkat kesadaran orang lain hingga merasa dirinya tidak akan pernah mampu mencapainya. Kekaguman yang semula tampak indah justru berubah menjadi batas psikologis.
Semakin tinggi seseorang ditempatkan dalam pikiran, semakin jauh pula kita merasa tertinggal.
Mengubah Kagum Menjadi Teladan
Apakah berarti kita tidak boleh mengagumi siapa pun?
Tentu bukan.
Yang perlu diubah adalah arah dari rasa kagum itu.
Jadikan kekaguman sebagai inspirasi, bukan pemujaan. Jadikan keberhasilan orang lain sebagai bukti bahwa sesuatu itu mungkin dicapai, bukan sebagai alasan mengapa kita merasa tidak mampu.
Belajarlah dengan hati yang lapang.
Ikut bergembira atas keberhasilan orang lain. Bersyukur atas pencapaian mereka. Namun tetap yakini bahwa setiap manusia memiliki jalannya sendiri.
Tidak ada dua perjalanan hidup yang benar-benar sama.
Karena itu, jangan menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran mutlak bagi kehidupanmu. Yang perlu diteladani adalah prinsipnya, bukan menyalin hasil akhirnya.
Jangan Terpesona oleh Hal Negatif
Prinsip yang sama juga berlaku pada hal-hal yang buruk.
Ketika mendengar kabar tragis, konflik, atau kejahatan, banyak orang justru memberi perhatian yang berlebihan. Mereka terus membahasnya, menyebarkannya, bahkan menjadikannya konsumsi sehari-hari.
Semakin besar perhatian yang diberikan, semakin besar pula ruang yang ditempati hal negatif itu di dalam pikiran.
Bersikap bijak bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan.
Cukup mengetahui seperlunya, mengambil pelajaran, mendoakan kebaikan bagi mereka yang terlibat, lalu melanjutkan hidup tanpa terus-menerus membawa beban peristiwa tersebut dalam pikiran.
Bagaimana dengan Tuhan?
Perenungan ini juga mengarah pada hubungan manusia dengan Tuhan.
Rasa hormat dan takzim kepada Tuhan tentu memiliki tempat yang penting dalam kehidupan spiritual. Namun, jika rasa kagum itu berubah menjadi ketakutan yang membuat seseorang merasa Tuhan begitu jauh dan mustahil didekati, hubungan spiritual dapat kehilangan kehangatannya.
Banyak tradisi spiritual justru mengajarkan keseimbangan antara rasa hormat, cinta, syukur, dan kedekatan.
Ketika seseorang mulai merasakan bahwa Tuhan hadir begitu dekat dalam setiap tarikan napas, dalam setiap kebaikan, dan dalam setiap langkah hidupnya, hubungan itu tidak lagi didominasi rasa takut, melainkan oleh rasa cinta dan kepercayaan.
Di titik itulah, spiritualitas tidak lagi sekadar menjadi ritual, tetapi berubah menjadi pengalaman hidup yang terus menyertai setiap tindakan.
Mungkin, yang perlu kita kurangi bukanlah rasa kagum itu sendiri, melainkan kecenderungan untuk menempatkan apa pun di luar diri sebagai sesuatu yang mustahil kita dekati.
Karena setiap kali kita berkata, “Itu terlalu tinggi untukku,” pada saat yang sama kita sedang membangun batas yang sesungguhnya tidak pernah ada.
(IA)






















