Saat Kekaguman Menjadi Penghalang

Kamis, 2 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi dibuat dengan AI

Ilustrasi dibuat dengan AI

Setelah lama mengamati perilaku manusia, saya sampai pada sebuah perenungan sederhana: salah satu penghalang terbesar yang membuat seseorang sulit melampaui kondisi hidupnya adalah rasa kagum yang berlebihan.

Sekilas, kekaguman tampak seperti sesuatu yang positif. Namun, ketika kekaguman berubah menjadi keterpesonaan yang berlebihan, ia diam-diam menciptakan jarak antara diri kita dan apa yang kita kagumi.

Mengapa demikian?

Karena di balik kekaguman yang berlebihan sering tersembunyi sebuah pengakuan yang tidak disadari: “Aku tidak mungkin bisa menjadi seperti itu.”

Kekaguman yang Menciptakan Jarak

Bayangkan seseorang yang begitu mengagumi orang kaya.

Ia terus memuji keberhasilan orang tersebut, tetapi dalam batinnya tersimpan keyakinan bahwa kekayaan seperti itu bukan untuk dirinya. Tanpa sadar, ia telah menempatkan dirinya di bawah kondisi yang ia kagumi.

Hal yang sama dapat terjadi dalam dunia spiritual.

Seseorang bisa begitu mengagumi kebijaksanaan, ketenangan, atau tingkat kesadaran orang lain hingga merasa dirinya tidak akan pernah mampu mencapainya. Kekaguman yang semula tampak indah justru berubah menjadi batas psikologis.

BACA JUGA :  Belief Systems Sangat Mempengaruhi Nasib

Semakin tinggi seseorang ditempatkan dalam pikiran, semakin jauh pula kita merasa tertinggal.

Mengubah Kagum Menjadi Teladan

Apakah berarti kita tidak boleh mengagumi siapa pun?

Tentu bukan.

Yang perlu diubah adalah arah dari rasa kagum itu.

Jadikan kekaguman sebagai inspirasi, bukan pemujaan. Jadikan keberhasilan orang lain sebagai bukti bahwa sesuatu itu mungkin dicapai, bukan sebagai alasan mengapa kita merasa tidak mampu.

Belajarlah dengan hati yang lapang.

Ikut bergembira atas keberhasilan orang lain. Bersyukur atas pencapaian mereka. Namun tetap yakini bahwa setiap manusia memiliki jalannya sendiri.

Tidak ada dua perjalanan hidup yang benar-benar sama.

Karena itu, jangan menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran mutlak bagi kehidupanmu. Yang perlu diteladani adalah prinsipnya, bukan menyalin hasil akhirnya.

BACA JUGA :  Manusia Diciptakan Untuk Meraih Bahagia

Jangan Terpesona oleh Hal Negatif

Prinsip yang sama juga berlaku pada hal-hal yang buruk.

Ketika mendengar kabar tragis, konflik, atau kejahatan, banyak orang justru memberi perhatian yang berlebihan. Mereka terus membahasnya, menyebarkannya, bahkan menjadikannya konsumsi sehari-hari.

Semakin besar perhatian yang diberikan, semakin besar pula ruang yang ditempati hal negatif itu di dalam pikiran.

Bersikap bijak bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan.

Cukup mengetahui seperlunya, mengambil pelajaran, mendoakan kebaikan bagi mereka yang terlibat, lalu melanjutkan hidup tanpa terus-menerus membawa beban peristiwa tersebut dalam pikiran.

Bagaimana dengan Tuhan?

Perenungan ini juga mengarah pada hubungan manusia dengan Tuhan.

Rasa hormat dan takzim kepada Tuhan tentu memiliki tempat yang penting dalam kehidupan spiritual. Namun, jika rasa kagum itu berubah menjadi ketakutan yang membuat seseorang merasa Tuhan begitu jauh dan mustahil didekati, hubungan spiritual dapat kehilangan kehangatannya.

BACA JUGA :  Jangan Jadi Bego! Indonesia Rawan Bencana, Bukan Gara-gara Ramalan

Banyak tradisi spiritual justru mengajarkan keseimbangan antara rasa hormat, cinta, syukur, dan kedekatan.

Ketika seseorang mulai merasakan bahwa Tuhan hadir begitu dekat dalam setiap tarikan napas, dalam setiap kebaikan, dan dalam setiap langkah hidupnya, hubungan itu tidak lagi didominasi rasa takut, melainkan oleh rasa cinta dan kepercayaan.

Di titik itulah, spiritualitas tidak lagi sekadar menjadi ritual, tetapi berubah menjadi pengalaman hidup yang terus menyertai setiap tindakan.

Mungkin, yang perlu kita kurangi bukanlah rasa kagum itu sendiri, melainkan kecenderungan untuk menempatkan apa pun di luar diri sebagai sesuatu yang mustahil kita dekati.

Karena setiap kali kita berkata, “Itu terlalu tinggi untukku,” pada saat yang sama kita sedang membangun batas yang sesungguhnya tidak pernah ada.

 

(IA)

Artikel Pilihan

Kekuatan Sugesti: Kata-Kata adalah Energi dan Doa
Jangan Mudah Baper
Energi Adalah “Sihir”, Begini Cara Melatihnya
Jangan Menyerah, Bab Terbaik Hidupmu Baru Dimulai
Passion Dibangun, Bukan Ditemukan
Rahasia Napas Membuka Pintu Rezeki
Kebiasaan Orang yang Sulit Dikalahkan Keadaan
Kebiasaan Diam-diam yang Merusak Kualitas Hidup

Artikel Pilihan

Rabu, 5 Agustus 2026 - 23:12 WITA

Kekuatan Sugesti: Kata-Kata adalah Energi dan Doa

Rabu, 5 Agustus 2026 - 23:06 WITA

Jangan Mudah Baper

Minggu, 26 Juli 2026 - 12:30 WITA

Energi Adalah “Sihir”, Begini Cara Melatihnya

Kamis, 2 Juli 2026 - 18:07 WITA

Passion Dibangun, Bukan Ditemukan

Kamis, 2 Juli 2026 - 16:47 WITA

Saat Kekaguman Menjadi Penghalang

Artikel Lainnya

Ilustrasi emosi dan perasaan

Health

Selalu Emosi Cepat Tua? Begini Cara Atasi

Rabu, 5 Agu 2026 - 23:18 WITA

Ilustrasi

Motivasi

Kekuatan Sugesti: Kata-Kata adalah Energi dan Doa

Rabu, 5 Agu 2026 - 23:12 WITA

Kemarahan Terpendam Memunculkan Penyakit Mental dan Fisik

Motivasi

Jangan Mudah Baper

Rabu, 5 Agu 2026 - 23:06 WITA

Hipnotis/ilustrasi

Hypnosis

Mengatasi Malas dengan Teknik Hypnosis

Rabu, 5 Agu 2026 - 23:01 WITA

Ilustrasi

Motivasi

Energi Adalah “Sihir”, Begini Cara Melatihnya

Minggu, 26 Jul 2026 - 12:30 WITA