Sungguh ajaib kepenciptaan manusia. Dan salah satu keajaiban itu adalah kita diciptakan untuk bisa (meraih) bahagia.
Kita diciptakan dengan jantung yang mengandung saraf-saraf dari dua cabang sistem saraf otonom, yaitu simpatik dan parasimpatik.
Artinya, apapun yang terjadi pada kedua sistem saraf otonom itu akan memengaruhi jantung.
Dengan kata lain, emosi apapun yang kita rasakan – destruktif ataupun konstruktif – akan selalu berpengaruh pada ritme jantung.
Ritme jantung kita akan selalu berkomunikasi dengan sistem saraf pusat, sehingga dengan cara ini, otak limbik, sistem saraf otonom, dan jantung saling terkoneksi.
Jantung dan otak terkoneksi oleh jalur eferen (turun) dan aferen (naik). Namun 90% dari serabut saraf penghubung naik dari jantung ke otak, dimana jalur-jalur saraf aferen terus-menerus mengirimkan sinyal dan informasi yang berinteraksi dengan otak.
Saat seseorang cenderung merasa marah, iri hati, dengki, kesal, frustasi, sakit hati, dan berbagai emosi destruktif, maka jantung menjadi tidak koheren. Ritme jantung menjadi tidak teratur dan terlihat bergerigi.
Namun ketika kita merasa bahagia, sukacita, bersyukur, kasih sayang, dan berbagai emosi konstruktif, maka ritme jantung kita akan koheren. Dan karena jantung dan otak terhubung, maka jantung yang koheren juga akan membuat otak kita koheren.
Membuat gelombang otak kita menjadi lebih teratur, harmoni, dan menyinkronkan neokorteks dengan pusat-pusat otak yang terkait dengan keberlangsungan hidup.
Yang terjadi adalah seluruh sistem tubuh kita akan bekerja secara harmoni. Stres kita berkurang, yang ditandai dengan penurunan kadar kortisol, sistem kekebalan tubuh meningkat.
Semakin awet muda, sistem pencernaan berada pada kinerja puncak, kualitas tidur meningkat, tingkat energi meningkat, fokus dan konsentrasi meningkat, membuat peningkatan keterampilan pemecahan masalah, mampu mengambil keputusan dengan baik.
Hingga bisa tetap tenang walau dalam situasi yang penuh tekanan. Semua keadaan konstruktif ini adalah keadaan yang sudah semestinya selalu terjadi pada diri kita, yang dengan itu membuat kita bisa menikmati hidup dan mencapai tujuan.
Dapat disimpulkan bahwa perasaan destruktif membuat jantung tidak koheren dan akhirnya otak pun menjadi tidak koheren. Ini berakibat pada kehancuran sistem tubuh secara menyeluruh.
Sedangkan manusia secara fitrah senantiasa mendambakan kesempurnaan, kebaikan, dan kebahagiaan. Maka sungguh ajaib kepenciptaan manusia.
Karena pada diri kita, ada dua potensi jalan, yaitu koheren (konstruktif) dan inkoheren (destruktif). Berbahagialah diri kita jika memilih jalan koherensi jantung dan otak.
Karena jalan ini pula-lah yang sesuai dengan fitrah diri kita. Dengan kata lain, kita sebagai manusia memang diciptakan untuk bisa meraih kebahagiaan.






















