Perang kembali meletus di Timur Tengah. Rudal-rudal melesat di langit malam, suara ledakan mengguncang rumah-rumah, dan ketakutan menjadi teman tidur yang tak diundang.
Di saat sebagian dari mereka berlari mencari perlindungan, kita di Indonesia masih bisa terbangun untuk sahur dengan tenang.
Kita masih bisa duduk santai menikmati kopi dan hidangan sahur. Masih bisa mendengar azan Subuh tanpa dentuman bom. Masih bisa melangkah ke masjid dengan rasa aman.
Kita masih asyik menonton dracin, berjalan-jalan ke mall, bercengkerama bersama keluarga, bahkan tidur nyenyak tanpa dihantui sirene serangan udara.
Kita masih sempat menunggu THR, bercanda, membuat status media sosial, atau sekadar rebahan setelah tarawih.
Sementara itu, di negeri yang terluka perang, ada yang bahkan tak bisa memejamkan mata.
Malam mereka bukan tentang ibadah yang khusyuk, tetapi tentang bertahan hidup. Anak-anak terbangun bukan karena ingin sahur, melainkan karena suara sirene dan ledakan. Para orang tua bukan hanya memikirkan menu berbuka, tetapi keselamatan keluarga.
Perbandingan ujian iman antara mereka dan kita begitu jauh.
Di tengah keterbatasan, ancaman, dan kehilangan, mereka tetap berpuasa, tetap bersujud, tetap melafalkan ayat-ayat suci dalam kondisi penuh ketidakpastian.
Sementara kita, yang hidup dalam keamanan dan kecukupan, terkadang masih mengeluh soal hal-hal kecil. Mengeluh tentang macet, cuaca panas, menu berbuka yang kurang sesuai selera, atau hal sepele lainnya.
Padahal kita masih bisa tadarus Al-Qur’an dengan tenang. Masih bisa berdzikir tanpa rasa takut. Masih bisa bercermin dan memperbaiki diri tanpa tekanan suara perang.
Nikmat keamanan sering kali terasa biasa, padahal itulah karunia yang luar biasa.
Belajar syukur dari negeri yang terluka perang bukan berarti membandingkan penderitaan, melainkan menyadari betapa besar nikmat yang kita rasakan hari ini.
Jika kita tak mampu berada di sana membantu secara langsung, setidaknya jangan lupa mendoakan. Jangan biarkan kenyamanan membuat kita lalai.
Karena ketika rudal terbang di langit mereka, kita sedang menikmati damai yang sering kita anggap sepele.
Lalu, pantaskah kita terus mengeluh?
Mari jadikan setiap hari sebagai momentum untuk memperbaiki diri. Kurangi keluhan, perbanyak doa, dan kuatkan empati. Sebab kedamaian yang kita rasakan hari ini adalah nikmat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
(IA)






















