Ada masa ketika hidup terasa seperti lorong tanpa ujung.
Semua yang diusahakan gagal. Semua yang diharapkan menjauh. Cahaya yang dulu memberi semangat perlahan meredup, hingga yang tersisa hanyalah rasa lelah yang sulit dijelaskan.
Di titik itu, seseorang mulai mempertanyakan dirinya sendiri.
“Mengapa hidupku seperti ini?”
“Mengapa semua orang seolah berjalan lebih cepat dariku?”
“Apakah keberadaanku benar-benar berarti?”
Pertanyaan-pertanyaan itu datang tanpa diundang. Semakin lama dipelihara, semakin kuat ia menggerogoti keyakinan bahwa hari esok masih layak diperjuangkan.
Rasa sepi pun ikut mengambil tempat.
Bercerita kepada orang lain terasa percuma. Ada yang tidak mengerti, ada yang hanya memberi nasihat singkat, dan ada pula yang menganggap semua itu hanyalah kurang bersyukur.
Akhirnya, kita memilih diam.
Diam yang perlahan berubah menjadi penjara.
Pada saat itulah, pikiran mulai menjadi musuh terbesar.
Ia mengingatkan semua kegagalan, tetapi melupakan setiap keberhasilan.
Ia membesar-besarkan setiap penolakan, tetapi mengecilkan setiap bentuk kasih sayang yang pernah diterima.
Ia meyakinkan bahwa hidup tidak akan pernah berubah.
Padahal, pikiran yang sedang terluka tidak selalu mampu melihat kenyataan dengan jernih.
Lalu saya bertanya kepada diri sendiri.
“Kalau aku menyerah hari ini, siapa yang sebenarnya menang?”
Apakah kegagalan menang?
Apakah rasa takut menang?
Apakah semua suara yang selama ini mengatakan aku tidak mampu akhirnya terbukti benar?
Jawabannya membuat saya terdiam.
Tidak.
Saya tidak ingin menyerahkan hidup kepada rasa putus asa.
Saya juga tidak ingin membiarkan satu bab yang buruk menentukan keseluruhan isi buku kehidupan saya.
Kalau dunia menganggap saya belum berarti, biarlah waktu yang menjawabnya.
Kalau hari ini saya belum berhasil, berarti perjalanan saya belum selesai.
Siapa tahu, justru setelah semua kegagalan ini, bab terbaik dalam hidup saya mungkin baru akan dimulai. Sebab, sering kali Tuhan tidak mengubah hidup seseorang ketika ia berada di puncak, melainkan ketika ia memilih bangkit dari titik terendahnya.
Kalau saya belum memiliki karya yang bisa dikenang, maka tugas saya bukan mengeluh, melainkan mulai menciptakannya.
Sejak hari itu, tujuan saya berubah.
Saya tidak lagi hidup untuk membuktikan bahwa orang lain salah.
Saya hidup untuk membuktikan bahwa diri saya mampu menjadi lebih baik daripada kemarin.
Setiap kegagalan saya jadikan pelajaran.
Setiap penolakan saya jadikan latihan.
Setiap air mata saya jadikan pengingat bahwa saya pernah berada di titik terendah dan tetap memilih untuk berdiri.
Perlahan saya memahami bahwa hidup tidak pernah berutang kebahagiaan kepada siapa pun.
Tetapi hidup selalu memberi kesempatan kepada mereka yang masih mau melangkah.
Mungkin langkahnya kecil.
Mungkin jalannya lambat.
Namun selama kita belum berhenti, perjalanan belum berakhir.
Hari ini, jika kamu sedang merasa gagal, jangan terburu-buru menyebut dirimu pecundang.
Jika kamu sedang merasa tertinggal, jangan mengira perlombaan telah selesai.
Jika kamu sedang berada dalam masa tergelap, jangan menganggap matahari telah padam.
Karena sering kali, titik terendah bukanlah akhir dari cerita.
Justru dari sanalah seseorang mulai menemukan keberanian yang selama ini tidak pernah ia sadari.
Maka, jangan menyerah.
Bukan karena hidup selalu mudah.
Melainkan karena kamu belum tahu seberapa luar biasa dirimu ketika memilih untuk terus bertahan.
Siapa tahu, bab yang sedang kamu jalani hari ini hanyalah penutup dari musim yang paling sulit.
Dan ketika halaman berikutnya terbuka, kamu akan menyadari bahwa bab terbaik dalam hidupmu memang baru saja dimulai.
(IA)






















