Saat kita memutuskan untuk berubah, dan memilih pola pikiran dan perasaan yang positif, maka saat itu pula akan terjadi resistensi.
Resistensi (penolakan) yang terjadi dari dalam diri sendiri (internal diri) adalah ketidakbiasaan, “asing” dan sesuatu “yang baru”.
Karena secara sadar ada kebiasaan diri yang sudah tertanam di pikiran bawah sadar secara otomatis dari kebiasaan itu sendiri.
Diri kita (yang berasal dari bawah sadar kita) akan langsung merasa tidak nyaman. Bawah sadar kita seolah berkata bahwa mengapa ada program baru yang muncul.
Selama ini bawah sadar (tubuh kita) sudah menjalankan program kebiasaan yang lama dan sudah terbiasa dengan perasaan yang sama, namun sekarang hadir perasaan yang samasekali baru.
Rasanya tidak “biasa” karena kita bukanlah diri kita yang dari program lama. Dan karena segala sesuatunya terasa tidak pasti, kita tidak lagi dapat memprediksi perasaan diri yang sudah dikenal.
Meskipun awalnya tidak nyaman, saat itulah kita tahu bahwa kita telah melangkah ke arah perubahan diri. Kita telah memasuki yang tidak diketahui.
Biasanya ketika seseorang melangkah ke arah perubahan, kekosongan antara diri lama dan diri baru itu sangat tidak nyaman sehingga mereka segera tergelincir kembali menjadi diri lama mereka lagi.
Mereka secara tidak sadar berpikir, ini tidak terasa benar, saya tidak nyaman, atau saya merasa tidak enak. Saat mereka menerima pemikiran itu, atau sugesti otomatis (dan menjadi sugestif untuk pemikiran mereka sendiri).
Mereka secara tidak sadar akan membuat pilihan lama yang sama lagi yang akan mengarah pada perkembangan perilaku kebiasaan yang sama untuk menciptakan pengalaman yang sama yang secara otomatis mendukung emosi/perasaan yang sama.
Dan kemudian mereka berkata pada diri mereka sendiri, ini terasa benar. Tapi apa yang mereka maksudkan sebenarnya adalah bahwa itu terasa akrab, karena itu adalah pola kebiasaan lama mereka.
Begitu kita memahami bahwa melakukan perubahan dan merasakan ketidaknyamanan sebenarnya adalah kematian biologis, neurologis, kimiawi, dan bahkan genetik dari diri lama
Kita memiliki kuasa atas perubahan dan kita dapat mengarahkan pandangan kita ke arah perubahan yang dituju. Jika kita menerima fakta bahwa perubahan adalah denaturasi sirkuit yang sudah tertanam sejak bertahun-tahun tanpa sadar berpikir dengan cara yang sama, maka kita dapat mengatasinya.
Jika kita memahami bahwa ketidaknyamanan yang kita rasakan adalah pembongkaran sikap, keyakinan, dan persepsi lama yang telah berulang kali terukir dalam arsitektur otak kita, maka kita dapat bertahan.
Jika kita dapat beralasan bahwa hasrat yang kita perjuangkan di tengah-tengah perubahan adalah penarikan nyata dari kecanduan kimiawi-emosional tubuh, maka kita dapat mengatasinya.
Jika kita dapat memahami bahwa variasi biologis yang nyata terjadi dari kebiasaan dan perilaku bawah sadar dimana tubuh kita berubah pada tingkat sel, maka kita dapat melanjutkannya.
Dan jika kita dapat mengingat bahwa kita sedang memodifikasi gen kita sendiri dari kehidupan ini dan dari generasi sebelumnya yang tak terhitung, maka kita dapat tetap fokus dan terinspirasi sampai akhir.
Saat diri baru lahir, kita juga harus berbeda secara biologis. Koneksi saraf baru harus ditumbuhkan dan disegel oleh pilihan sadar untuk berpikir dan bertindak dengan cara baru setiap hari.
Koneksi tersebut harus diperkuat dengan berulang kali kita menciptakan pengalaman yang sama hingga menjadi kebiasaan.
Keadaan kimia baru harus menjadi akrab bagi kita dari emosi pengalaman baru yang cukup. Dan gen baru harus diberi sinyal untuk membuat protein baru untuk mengubah keadaan kita dengan cara baru.
Dan karena ekspresi protein adalah ekspresi kehidupan dan ekspresi kehidupan sama dengan kesehatan tubuh, maka tingkat kesehatan dan kehidupan struktural dan fungsional yang baru akan mengikuti. Pikiran yang diperbarui dan tubuh yang diperbarui akhirnya muncul.
Penulis : Syahril Syam, ST, C.Ht, L.NLP Pakar Pengembangan Diri






















