Salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima adalah, “Sebenarnya apa itu passion?”
Banyak orang menganggap passion sebagai bakat bawaan atau pekerjaan impian yang suatu hari akan ditemukan begitu saja. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks.
Bagi saya, passion adalah jati diri yang perlahan muncul melalui apa yang kita kerjakan, pelajari, dan tekuni dengan sepenuh hati. Ia bukan sesuatu yang menunggu ditemukan, melainkan sesuatu yang dibangun.
Passion Ibarat Sebuah Masakan
Bayangkan di hadapanmu terbentang berbagai bahan makanan.
Kamu belum pernah melihat hasil akhirnya. Belum tahu rasanya akan seperti apa. Yang ada hanyalah berbagai bahan dasar dengan karakter yang berbeda-beda.
Begitulah passion.
Hobi, minat, rasa ingin tahu, pengalaman hidup, kemampuan, hingga kegagalan adalah bahan-bahan yang telah tersedia sepanjang hidupmu.
Tugasmu bukan mencari masakan yang sudah jadi, melainkan meraciknya sendiri.
Kamulah kokinya.
Kamulah yang menentukan resepnya.
Jangan Takut Jika Percobaan Pertama Gagal
Masakan pertama mungkin terasa hambar.
Mungkin terlalu asin, terlalu pahit, terlalu pedas, atau bahkan gagal total.
Bahkan, bisa jadi dirimu sendiri menjadi orang pertama yang berkata, “Ini belum enak.”
Namun, jika memang di situlah passion-mu berada, sesuatu yang menarik akan terjadi.
Akan muncul dorongan untuk mencoba lagi.
Rasa penasaran akan mengalahkan rasa kecewa.
Kamu ingin memperbaiki resepnya, mengganti takarannya, mencoba teknik baru, lalu memasaknya kembali.
Bukan karena dipaksa orang lain, melainkan karena ada gairah yang terus memanggilmu untuk berkembang.
Berapa Lama Menemukan Passion?
Banyak orang berharap passion bisa ditemukan dalam hitungan bulan atau beberapa tahun.
Menurut saya, proses itu berlangsung seumur hidup.
Karena manusia terus berubah.
Pengalaman bertambah.
Cara berpikir berkembang.
Begitu pula passion.
Ia terus berevolusi mengikuti perjalanan hidupmu.
Jangan Remehkan Hobimu
Sering kali orang menganggap hobinya tidak penting karena tidak langsung menghasilkan uang.
Padahal, hobi adalah bahan mentah yang sangat berharga.
Seseorang bisa memiliki banyak hobi sekaligus.
Ketika berdiri sendiri, hobi-hobi itu mungkin tampak tidak saling berhubungan. Namun ketika terus dipelajari dan dipadukan, perlahan akan muncul pola yang membentuk keahlian yang unik.
Di situlah identitasmu mulai terlihat.
Semakin tekun kamu belajar, semakin tajam kemampuanmu.
Semakin kaya pengalamanmu, semakin luas kreativitasmu.
Bahkan hal-hal yang dulu kamu anggap sebagai kelemahan atau pengalaman pahit dapat berubah menjadi bumbu yang memperkaya karya yang kamu hasilkan.
Karya yang Memiliki Cita Rasa
Pada suatu titik, kamu akan menyadari bahwa hampir semua pengalaman hidup dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai.
Kegagalan menjadi pelajaran.
Kesulitan menjadi kekuatan.
Hobi menjadi keahlian.
Keahlian berubah menjadi karya.
Dan karya itu memiliki cita rasa yang khas, sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.
Seorang chef pernah memuji sebuah hidangan dengan mengatakan, “Rasa masakanmu sangat kaya.”
Ada pula yang berkata, “Masakanmu punya karakter.”
Begitulah passion bekerja.
Ia membuat setiap karya memiliki identitas.
Bukan karena mengikuti resep orang lain, melainkan karena lahir dari perpaduan pengalaman, pembelajaran, kreativitas, dan ketekunan yang hanya dimiliki oleh dirimu sendiri.
Maka, jika hari ini masih bertanya, “Apa passion saya?”, mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah:
Bahan apa saja yang sudah diberikan kehidupan kepadamu, dan sudah sejauh mana kamu berani meraciknya menjadi karya yang benar-benar mencerminkan dirimu?
(IA)






















