Ada begitu banyak orang yang ternyata merasa nyaman dengan sakit hati, kesedihan, kecemasan, mudah marah, depresi, merasa sebagai korban, dan ketidakbahagiaan.
Kenapa bisa demikian?
Bukankah tidak ada satupun manusia yang ingin lelah hati?
Bukankah semua manusia ingin bahagia?
Banyak di antara kita ketika sudah terbiasa memakai jam tangan, dan suatu hari kita lupa memakainya, maka muncul suatu perasaan yang seolah ada sesuatu yang hilang.
Perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak sebagaimana mestinya. Kita merasakan perasaan yang mengharapkan sesuatu agar terpenuhi, sehingga merasa ada sesuatu yang tidak “gue banget”.
Tubuh kita bereaksi dan memicu otak kita untuk berpikir bahwa ada sesuatu yang terasa berbeda. Maka otak pun mencari tahu apa yang tidak seperti biasanya. Oh ternyata kita lupa memakai jam tangan.
Saat pengalaman hidup direspon secara destruktif atau negatif maka hal itu akan melahirkan stres berkepanjangan, maka hal ini membuat seseorang mengalami kecemasan, sakit hati, kekecewaan, stres, mudah marah, dan depresi secara berulang.
Maka tanpa sadar tubuhnya merekam hal itu sebagai suatu kebiasaan dan membentuk diri yang seringkali disebut dengan, “inilah saya”.
Akibatnya tanpa semua perasaan destruktif itu, ia akan berusaha mencari keadaan atau memerintahkan otak agar menghadirkan memori yang memicu hadirnya semua kecemasan, sakit hati, kecewa, stres, dan depresi.
Tubuhnya telah merasa nyaman dengan keadaan emosi yang destruktif. Seringkali berupa muncul suara-suara atau pikiran di benak yang memicu hadirnya perasaan destruktif.
Suara yang didengarkan adalah tubuh yang menyuruh dirinya untuk memulihkan ketertiban internal dan menghentikan penderitaan dan ketidaknyamanan yang dirasakannya.
Ia tidak secara sadar memikirkan pikiran-pikiran itu; mereka datang dari tubuhnya memberitahunya apa yang harus dipikirkan dan dilakukan agar kembali ke keadaan “inilah saya”.
Jadi jangan heran ada orang yang capek marah-marah dan mengeluh karena suka marah-marah, tapi setiap hari selalu marah-marah.
Ketika bangun tidur tubuhnya mencari sensasi nyaman berupa kebiasaan marah-marah.
Sehingga selalu ada saja hal-hal kecil yang memicu kemarahannya. Tubuhnya merasa nyaman kalau setiap hari marah-marah.
Hal yang sama juga terjadi pada orang-orang yang mengeluh dan merasa menderita karena sakit hati, depresi, cemas, dan semua emosi yang tidak menyenangkan.
Secara sadar mereka mengeluh dan merasa menderita, akan tetapi di bawah sadar, tubuh mereka sebenarnya merasa nyaman ketika mengalami semua perasaan itu.
Jika tidak cemas sehari seperti ada yang hilang dari kebiasaan sehari-hari. Jika tidak sakit hati atau depresi dalam sehari seperti ada sesuatu yang hilang; sesuatu yang secara biasa telah dialami oleh tubuhnya. Sehingga akhirnya banyak hal-hal kecil akan selalu menjadi pemicu hadirnya sakit hati, kecewa, jengkel, cemas hingga depresi. Atau otaknya tiba-tiba saja memikirkan hal-hal yang memicu hadirnya berbagai perasaan destruktif.
Seperti seorang pecandu narkoba yang ingin berhenti dengan kecanduannya, akan tetapi tubuhnya sudah terlanjur menyenangi keadaan candu itu.
Dan karena tubuh membutuhkan merasakan perasaan yang sama, maka dibutuhkan dosis narkoba yang semakin banyak karena perasaan “nyaman” yang sebelumnya sudah mulai terasa hambar.
Begitu pula dengan mereka yang kecanduan perasaan destruktif, akan selalu tenggelam dan semakin tenggelam dalam situasi yang memicu perasaan destruktifnya.
Atau semakin tenggelam ke dalam memori-memori luka batin hanya demi mencari sesuatu yang telah menjadi kebiasaan rutinnya, yaitu merasakan sakitnya hati dan semua emosi destruktif.
Inilah mengapa seseorang yang mengalami kecemasan akut atau depresi, sangat susah untuk move on. Atau mereka yang suka marah, sangat sulit menahan kemarahannya.
Dan ini jugalah yang menjadi penyebab seseorang mengalami penyakit yang seringkali disebut sebagai penyakit keturunan.
Karena ia akhirnya terjebak pada pola destruktif dan membuat pola genetika keturunan menjadi aktif dan memicu hadirnya penyakit-penyakit yang sering disebut sebagai penyakit keturunan, hanya karena hampir semua keluarganya menderita penyakit yang sama.
Pola-pola destruktif ini akan terus terjadi, kecuali kita berusaha keluar dari pola itu dengan menyadari kondisi destruktif yang terjadi selama ini, melepaskannya, dan kemudian berniat dan memutuskan untuk berpikir, merasakan, dan melakukan hal-hal baru yang konstruktif.






















