Dulu, saat anak kita baru berusia sekitar 1 tahun, saat ia pertama kali belajar berdiri dan berjalan. Kita semua begitu bahagia melihatnya.
Walau ia terjatuh berkali-kali dikala belajar berdiri dan berjalan, wajah kita tidak pernah cemberut. Wajah kita justru bahagia dan tersenyum sambil memotivasi: “Ayo nak, kamu pasti bisa!”
Perasaan kita saat itu adalah perasaan memaklumi kondisi anak. Kita merasa bahwa ia memang dalam proses belajar berdiri dan berjalan.
Kita merasa bahwa ini hal baru dan kita mesti memberinya waktu untuk belajar. Kita bahkan memaklumi ketika ia terjatuh dan justru semakin memberi semangat.
Dan karena itu yang kita rasakan, maka tak ada wajah cemberut apalagi marah. Tak ada tindakan konyol yang membabi buta. Bahkan tak ada sentuhan fisik yang menyakiti hati anak.
Namun sungguh aneh bin konyol, ketika anak telah berusia SD dan ia belum mengerti matematika, semua senyuman kita menghilang, digantikan oleh kemarahan
Tak ada lagi penyemangat dan motivasi, digantikan dengan tekanan, tak ada lagi pemakluman bahwa ia sementara berproses, digantikan dengan pukulan dan sumpah serapah.
Apa yang berbeda pada anak kita? Sungguh tidak ada yang berbeda sama sekali. Anak kita dan bahkan kita semua, ketika pertama kali belajar mempelajari hal baru, semua anak butuh proses.
Dalam proses itu terkadang anak kita terjatuh (gagal), tapi yang paling penting adalah ia terus berusaha dan tidak menyerah.
Seperti halnya saat anak kita pertama kali belajar berjalan, anak kita pun bisa terjatuh (gagal) saat pertama kali belajar matematika dan semua hal baru. Ini adalah pola yang sama ketika pertama kali mempelajari hal baru.
Yang berbeda justru kita sebagai orang tua. Perasaan kita dalam memandang anak kita dulu, berbeda dengan perasaan kita saat melihat anak kita di usia SD.
Yang kita rasakan terhadap anak kita adalah “masa begitu saja tidak bisa”, “ini kan mudah, bodoh amat sih kamu”, dan semua perasaan yang melahirkan kemarahan, kekesalan, hingga memicu tindakan berupa tekanan dan sentuhan fisik yang menyakiti hati anak.
Karena perasan kita berbeda, maka beda pula pikiran, sikap, dan tindakan kita terhadap anak. Ini pulalah yang membuat rutinitas kebanyakan orang tidak bahagia.
Perasaan dulu saat bertemu pasangan pertama kali, telah berbeda saat menjalani kehidupan bersama bertahun-tahun. Akhirnya tidak ada lagi rasa bahagia intens saat bertemu pasangan di setiap hari.
Perasaan yang berbeda juga terjadi pada anak, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari. Yang terjadi adalah perasaan tertekan memicu pikiran, sikap, dan tindakan yang justru semakin memperkuat perasaan stres, marah, kesal, kecewa, sakit hati, jenuh, derita, dan depresi.
Oleh sebab itu, prinsip utama dalam merubah diri adalah perasaan hanya bisa digantikan oleh perasaan. Kita mesti merubah pikiran, sikap, dan tindakan, serta perasaan kita agar berubah menjadi perasaan yang konstruktif.
Agar kemudian perasaan konstruktif yang kita rasa akan memicu hadirnya pikiran, sikap, dan tindakan yang membuat perasaan bahagia kita semakin intens.
Saat kita merasa bahwa semua yang ada pada diri kita dan di sekitar kita adalah amanah dari-Nya, maka perasaan inilah yang menentukan pikiran, sikap, dan perilaku kita dalam menghadapi rutinitas.
Dan dengan perasaan konstruktif dan bahagia ini pula, kita menjalani rutinitas. Sehingga pikiran, sikap, dan tindakan kita tetap konstruktif ketika bersama pasangan, anak, pekerjaan, dan menjalani rutinitas sehari-hari.
Inilah yang melahirkan perasaan bahagia intens dalam menjalani hidup sehari-hari.
Penulis : Syahril Syam, ST, C.Ht, L.NLP Pakar Pengembangan Diri






















