Walau jantung bersifat materi dan perasaan bersifat non materi, namun melalui jantung kita bisa mengukur ritme perasaan yang kita rasakan.
Jantung menunjukkan bahwa ia bisa beroperasi secara mandiri tanpa perlu berkoordinasi dengan otak. Itulah sebabnya, orang yang phobia kecoa akan selalu merasa takut saat melihat kecoa.
Otaknya bisa menghasilkan sejuta alasan rasional bahwa kecoa itu tidak berbahaya, tapi ritme jantungnya akan semakin tidak beraturan. Rasa takutnya mengalahkan pikiran rasionalnya.
Jantung juga diketahui menghasilkan medan magnetik terkuat di dalam tubuh, dan 5.000 kali lebih kuat dari medan yang dihasilkan oleh otak.
Denyut magnetis jantung tak hanya bergema melalui setiap sel tubuh, melainkan juga menghasilkan medan magnetik di sekeliling tubuh yang bisa diukur hingga mencapai 3 meter.
Jadi jangan heran, ketika perasaan seseorang terasa begitu intens, kita bisa turut merasakan apa yang dirasakan olehnya saat kita berada di dekatnya.
Perasaan yang kita rasakan memiliki muatan magnetik, karena perasaan adalah energi yang memancarkan medan magnetik yang kuat.
Semakin kuat perasaan konstruktif dan positif yang kita rasakan, semakin kuat medan magnetiknya.
Dan perasaan yang konstruktif dan positif ini ketika digabungkan dengan niat yang jernih, kita mampu mengubah energi biologis kita. Dan ketika kita mengubah energi kita, kita mengubah hidup kita.
Itulah sebabnya, apapun yang kita cintai akan menjadi takdir kita; akan bersama kita pada akhirnya. Selama perasaannya tidak lenyap, takdirnya pun takkan lenyap.
Jika seseorang benar-benar mencintai dunia dan isinya, maka takdirnya adalah hanya bersama dunia.
Ia pada akhirnya akan benar-benar memperoleh apa yang dicintainya. Begitu pula sebaliknya, jika cinta kita ditujukan kepada Sang Maha Agung, maka kita akan menerima karunia kemuliaan yang sesuai derajat cinta kita di hari kebangkitan kelak.
“Orang akan dikumpulkan bersama yang ia cintai”.






















