Motivasi

Mencari Alasan Vs Menciptakan Alasan

Icky
×

Mencari Alasan Vs Menciptakan Alasan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

Kebanyakan orang ketika melakukan suatu kesalahan atau mengalami kegagalan, cenderung mencari-cari alasan.

Walau alasan yang disampaikan biasanya berupa fakta atau rekaan, akan tetapi alasan tersebut tidak akan pernah bisa mengubah kesalahan atau kegagalan.

Kesalahan tetap kesalahan dan tidak akan pernah menjadi hal yang benar.

Kegagalan tetap kegagalan dan tidak akan pernah menjadi keberhasilan.

Inilah mengapa alasannya dicari-cari (sengaja dibuat dan diambil dari kejadian fakta atau rekaan), agar bisa membenarkan kesalahan yang dilakukan atau kegagalan yang dialami.

Kita adalah makhluk yang tak luput dari salah dan gagal. Akan tetapi, mencari-cari kesalahan tidak akan pernah merubah kesalahan atau kegagalan yang terjadi.

BACA JUGA :  Kemana pun Berobat Ujungnya Selalu Diarahkan ke Pikiran

Adanya alasan yang dibuat-buat menunjukkan bahwa kita sebagai manusia adalah makhluk alasan. Dan karena itu pula, alasan sebenarnya memiliki sisi motivasi.

Dengan alasan pula, kita bisa menjadi lebih baik. Kita pun bisa meraih keberhasilan.

Alasan pada sisi ini bukan lagi sebagai pembenaran atas kesalahan atau kegagalan. Tapi sebagai pendorong bagi tindakan kita untuk berupaya menjadi lebih baik dan meraih keberhasilan.

Oleh sebab itu, daripada secara sengaja mencari-cari alasan untuk menutupi kesalahan dan kegagalan, jauh lebih baik ciptakanlah alasan untuk memperbaiki kesalahan atau merangkul kegagalan dan menjadi optimis.

BACA JUGA :  Panduan Praktis untuk Menerima Diri Anda

Alasan bertempat di hati kita. Artinya alasan adalah sebuah perasaan yang kita rasakan sehingga dengan rasa itu kita termotivasi.

Secara neurologis, perasaan yang hadir bergantung pada apa yang dipikirkan.

Jika berpikir destruktif, maka perasaan sakit hati, marah, jengkel, kecewa, dan sejenisnya yang hadir.

Tapi jika berpikir konstruktif, maka perasaan optimis, semangat, bangkit saat gagal, termotivasi, dan sejenisnya yang hadir.

Alih-alih mencari-cari alasan untuk suatu kesalahan atau kegagalan, kita bisa memilih untuk secara sadar menciptakan perasaan konstruktif.

BACA JUGA :  Self Healing dan Menciptakan Blue Zone Pada Diri Sendiri

Dengan secara sadar men-setting pikiran menjadi konstruktif (secara sadar memikirkan betapa penting dan bermaknanya sesuatu itu)

Maka kita secara sadar pula menghadirkan perasaan berdaya, sehingga kesalahan yang dilakukan dapat segera diperbaiki dan punya alasan yang kuat untuk konsisten berbuat baik.

Juga kegagalan yang dialami tidak lagi membuat terpuruk, tapi merangkul kegagalan tersebut, memandangnya sebagai bagian dari usaha, bangkit kembali dan berusaha melakukan yang terbaik dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.

 

Jalan Hidup Tak Semudah 5+5=10
Motivasi

Jalan Hidup Tak Semudah 5+5=10 mengingatkan kita bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai hitungan, tetapi selalu punya maksud yang lebih besar. Lewat moitvasi spiritual ini, kita diajak percaya bahwa Terkadang Tuhan Beri Jalan 6×2+10-2-11+1=10 untuk membentuk kita menjadi lebih kuat dan bijak.

Kekuatan Sugesti: Kata-Kata adalah Energi dan Doa
Motivasi

Kekuatan sugesti mengingatkan kita bahwa setiap ucapan punya dampak, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Saat kita sadar bahwa kata kata adalah energi, kita pun lebih waspada dengan ucapanmu dan memahami bahwa ucapanmu adalah doa.

Kemarahan Terpendam Memunculkan Penyakit Mental dan Fisik
Motivasi

Di artikel ini, Anda akan menemukan cara mengatasi baper yang sederhana dan mudah diterapkan agar tidak mudah tersinggung oleh hal-hal kecil. Yuk, pahami langkah-langkah praktis untuk Hindari Baper dan menjaga hati tetap lebih tenang setiap hari.