Dalam studi riset dan analisis beberapa bulan terakhir ini, saya meluangkan waktu menyambangi pengobatan tradisional, medis, dan ala versi dukun.
Seperti biasa, saya mencoba menjadi orang awam pada umumnya berobat ke sana ke sini guna untuk riset.
Saya sebenarnya sehat tujuan saya hanya untuk menguji lalu mencoba akting dengan drama sakit. Drama yang saya mainkan tidak sampai kepada perasaan dan ilmu rasa jadi aman.
Berangkat dari itulah, kemudian saya datang di pengobatan A di Sulawesi Selatan, kemudian di pengobatan B, C, D, E, dan ke pengobatan titisan ini dan itu. Hingga sampai ke Rumah Sakit.
Dari warna warni jenis pengobatan tersebut, 99 persen pihak dari ahli pengobatan tersebut menyarankan pikiran. Dan 1 Persen area Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat. Artinya, kalau Tuhan menghendaki semua terjadi apakah sehat atau sakit.
Mengapa Pikiran?
Saya pun berpura-pura bertanya, dan merangkai suatu nama penyakit, misalkan: “Diabetes” (Kaki diperban untuk menyakinkan mereka) dan saya bertahan untuk jangan dibuka perban tersebut. Dan semua berjalan sesuai skenario.
Mengapa diabetes nama penyakit yang saya ambil? Mengapa tidak ke penyakit psikis seperti psikosomatik, anxiety dan lain lain?
Jawabannya, kalau saya memilih psikis sudah jelas arahnya ke pikiran, namun kalau saya memilih diabetes maka hal itu belum tentu.
Dari skenario yang saya bangun ini, rata-rata mereka lebih dominan berbicara ke ranah pikiran.
Contoh kata-kata versi mereka yang saya dengar :
“Tenangkan pikiran, jangan berpikir macam-macam, “
“Gak usah banyak pusing dan banyak berpikir mas”
“Kasih nyaman pikiran anda”
“Apa kebiasaan yang biasa mas lakukan hingga bisa begini? Coba rubah mindsetnya, mulailah berpikir positif”
“Sehatkan pikiran, berpikir positif”
Dan masih banyak lagi, rata-rata semua mengarahkan pikiran atau ke pola pikir ke positif.
Jika demikian, dengan pikiran yang mendominasi seperti yang mereka sampaikan itu, maka pembelajaran tentang pikiran yang kita pelajari selama ini adalah Asset.
Sayangnya, asset yang free tersebut banyak yang tidak memanfaatkannya kecuali sebatas ingin tahu bukan untuk mendalaminya.






















