Kita semua adalah manusia pecandu. Saat kita berada dalam kondisi candu, maka inilah zona nyaman kita.
Sehingga banyak dari kita tidak mau keluar dari zona nyaman karena telah begitu terlena dengan kecanduan yang dialami.
Ini juga yang disebut sebagai karakter buruk, karena karakter adalah kebiasaan yang sudah sering dilakukan dan bersifat otomatis.
Disebut otomatis karena terjadi oleh kecanduan yang kita alami; karena merupakan zona nyaman kita.
Seseorang memilih untuk tetap berada dalam keadaan diri yang sama karena ia telah menjadi kecanduan keadaan emosional yang dihasilkan dari bahan kimia di otak dan tubuh yang membangkitkan keadaan itu.
Makanya sulit bagi dirinya melepaskan kebiasaan (karakter buruk) yang sudah melekat.
Ia sudah terlena dengan candu kebiasaan dan sudah nyaman dengan zona kebiasaan tersebut. Ia senantiasa mengalami suatu keadaan diri yang seolah tidak bisa dihentikan.
Stres kronis (bukan stres positif) yang berkepanjangan adalah sebuah candu. Stres adalah tentang bertahan hidup atas ancaman yang mungkin terjadi.
Sehingga respons yang muncul secara otomatis adalah melawan atau lari. Pada manusia zaman now, stres bisa dipicu oleh ancaman yang mirip di masa lalu yang diketahui dan nampak secara langsung, dimana ia masuk ke mode itu saat ada jeda dalam kontinuitas keadaan yang sudah dikenal.
Misalnya, seseorang sedang berjalan kaki di pinggir jalan, dan tiba-tiba dia melihat seolah-olah semak-semak yang tidak jauh darinya bergoyang.
Ia kaget dan tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Satu-satunya pikiran yang muncul adalah bahwa ada ular di situ. Nalarnya menjadi hilang dan yang terjadi adalah reaksi tubuh.
Segera saja ia berlari menghindari semak-semak itu. Adanya sesuatu yang berdesir di semak-semak, membuat otak neokorteks memusatkan seluruh perhatiannya pada dunia luar dan memperhatikan apa yang mungkin menjadi ancaman potensial.
Selain itu, stres juga terjadi jika seseorang tidak dapat mencocokkan rangsangan yang tidak dikenal dengan pola dari apa yang ia ketahui dari pengalaman yang dipetakan secara neurologis di masa lalu.
Isyarat eksternal ini akan ditanggapi sebagai sesuatu yang tidak diketahui, dan otak akan mengirim pesan ke tubuh melalui sistem saraf melawan atau lari agar bersiaplah untuk bahaya.
Dengan kata lain, ketika dunia luar tidak lagi menjadi pola yang biasa, ia sangat siap untuk bersiap menghadapi apa pun yang mungkin terjadi.
Berada di situasi yang tidak biasa atau terlalu mengkhawatrikan masa depan yang belum pasti adalah contoh nyata akan hal ini.
Akhirnya ketakutan atau agresi cenderung menjadi respons dominan dalam bertahan hidup.
Dalam kehidupan zaman now saat ini, ada begitu banyak yang terjadi pada kita terkait kelangsungan hidup.
Mulai dari ketertarikan terhadap lawan jenis, memiliki tempat tinggal, mencapai status sosial, menyediakan makanan dan kenyamanan, dan semua hal yang memungkinkan kita dalam menjalani hidup.
Dan di dalamnya juga terdapat perasaan tidak nyaman yang dipicu oleh kemacetan lalu lintas, membayar tagihan, bertengkar dengan pasangan tentang utang kartu kredit, memiliki konflik pekerjaan, menabung untuk pensiun, bereaksi terhadap pandangan politik yang berbeda, dan apapun yang terjadi selama menjalani hidup.
Apapun yang terjadi, ketika seseorang bereaksi terhadap dunia luar, apa pun stimulusnya, ia merespons dengan cara yang sama dengan sistem saraf yang sama.
Ketika ia terancam dan dalam mode bertahan hidup, ia bereaksi dengan serangkaian sirkuit yang terkait dengan kebiasaan, perilaku, sikap, dan ingatan masa lalu yang secara genetik terhubung atau terhubung dengan pengalamannya.
Oleh karena itu, interpretasi dirinya terhadap ancaman atau stresor eksternal telah diubah untuk memenuhi tuntutan situasi kehidupannya saat ini.
Namun, pada tingkat yang paling sederhana, kelangsungan hidup tetaplah kelangsungan hidup, dan reaksi dirinya terhadap tekanan atau bahaya eksternal akan selalu sama. Dengan kata lain, kelangsungan hidupnya adalah juga kehidupan stres yang dialaminya setiap saat.
Stres bisa juga terjadi pada situasi lain, dimana tidak ada stresor saat ini yang terlihat secara eksternal. Seseorang mungkin duduk di kursi atau berbaring di tempat tidur, bahkan tidak bergerak, namun ia juga mengalami stres yang sama karena mengkhawatirkan wawancara kerja besok atau bagaimana ia akan membayar sejumlah tagihan bulan depan.
Pada saat-saat seperti itu, ia mengantisipasi stres di masa depan yang harus ia atasi. Sekarang ia memiliki pedal gas internal yang diinjak, karena stres di masa depan membanjiri tubuhnya dengan adrenalin dan hormon stres lainnya.
Inilah pola-pola kehidupan stres yang membuatnya hanya hidup dalam kondisi sekadar menjalani dan bertahan hidup dan tidak mengalami evolusi diri.
Pada gilirannya fungsi neokorteks (otak berpikir) dirinya berubah. Itu tidak lagi digunakan untuk belajar atau proses berpikir yang lebih tinggi.
Sebaliknya, itu digunakan hanya untuk mengingat dan mengenali situasi masa lalu yang sudah dikenal dan menghubungkannya dengan situasi saat ini atau membayangkan masa depan yang menghadirkan kecemasan.
Ketika ia mengingat dan membayangkan, ia mengaktifkan sirkuit otak yang ada yang telah dikembangkan dari pengalaman masa lalu.
Substrat kimiawi dari respons bertahan hiduplah yang mengaktifkan sirkuit saraf yang ada agar ia secara otomatis berpikir seperti ini.
Dengan menyalakan sirkuit berulang-ulang, ia menyalakan reaksi stres dengan pikirannya sendiri.
Setiap kali seseorang mendapat reaksi stres dari lingkungan, otak mulai mengasosiasikan perubahan kimia ini, perubahan internal ini, dengan penyebab di dunia luar.
Oleh karena itu, mereka yang stres kronis cenderung mengasosiasikan orang, tempat, benda, waktu, dan peristiwa dengan adrenalin, yang melahirkan respon melawan atau lari. Ini terjadi karena saat stres, sebagian besar aliran darah ke otak dialihkan ke otak belakang dan tengah; menjauh dari otak depan yang merupakan pusat kognitif manusia.
Dan ini menjadi penyebab hilangnya akal sehat dan digantikan dengan tindakan sembrono. Tidak ada lagi “berpikir jernih”; yang ada hanyalah tindakan impulsif, ketakutan, dan kemarahan.
Dan keadaan ini melahirkan sejumlah kebiasaan buruk. Di antara gejalanya adalah kelesuan, kurangnya kemampuan untuk fokus, tidak termotivasi, cenderung menyalahkan orang dan lingkungan.
Keinginan yang luar biasa untuk mempertahankan rutinitas dalam kehidupan sehari-hari, mudah marah saat rutinitasnya terganggu, ketidakmampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, mudah marah dan tersinggung, egois, berkhayal agar situasi bisa berubah sesuai keinginan, pesimis, dan depresi.
Neuorosaintis menyebutkan bahwa hidup dalam stres adalah hidup dalam keadaan bertahan hidup primitif yang umum bagi sebagian besar spesies.
Ketika seseorang hidup dalam kelangsungan hidup, ia membatasi evolusi dirinya, karena bahan kimia stres akan selalu mendorong otak besarnya untuk bertindak setara dengan substrat kimianya.
Akibatnya, ia menjadi lebih seperti binatang dan kurang Ilahi. Bahan kimia stres adalah penyebab yang mulai mengubah keadaan internal dirinya dan menarik pemicu kerusakan sel tubuh.
Proses stres kronis ini biasanya tidak begitu saja terjadi dalam waktu yang singkat, melainkan telah terjadi berulang kali selama belasan hingga puluhan tahun masa hidup.
Sehingga akhirnya stres telah menjadi karakter. Saat stres adalah karakter itu sendiri, maka segala perasaannya cenderung dipengaruhi eksternal (di luar dirinya). Mood sepenuhnya karena pengaruh orang, situasi, lingkungan kerja, benda, waktu, tempat, dan peristiwa.
Maka menjadi wajar bahwa tidak akan mungkin terjadi peningkatan kinerja saat berada dalam lingkungan kerja yang menuntut kinerja.
Itulah sebabnya kinerja mereka lebih banyak ditentukan oleh segala hal di luar dirinya, mulai dari uang, reward, lingkungan kerja, dan sejenisnya.
Makanya banyak manusia zaman now nampak baik-baik saja dari luar, tapi di dalam hatinya ia senantiasa membawa panci yang berisi air mendidih. Terlihat tenang, tapi menyimpan kecemasan, kekhawatiran, kegelisahan, kesedihan, kemarahan, yang siap meledak kapan saja.
Penulis : Syahril Syam, ST, C.Ht, L.NLP Pakar Pengembangan Diri






















