Aristoteles berkata bahwa kita adalah apa yang kita lakukan berulang kali. Pikiran dan perasaan kita senantiasa terpicu oleh sesuatu yang didengar dan dilihat, peristiwa, orang, benda, dan tempat.
Dan ini bisa terjadi saat mengalaminya atau saat mengenang kembali memori akan hal-hal itu.
Pikiran dan perasaan apapun yang berulang kali terpicu oleh semua hal itu, maka terbentuklah diri kita. Diri kita yang seringkali disebut dengan “sudah seperti inilah saya”.
Jika yang sering dipikirkan dan dirasakan adalah hal yang negatif, maka akan menjadi orang yang suka marah, mudah tersinggung, pesimis, atau berbagai kepribadian yang cenderung negatif.
Begitu juga sebaliknya, ketika pikiran dan perasaan positif yang sering hadir, maka akan membentuk diri kita yang penyayang, peduli, tidak mudah stres, optimis, dan kepribadian yang cenderung konstruktif. Gaya hidup kita pun terbentuk dari proses ini juga.
Dari hal ini, bisa diketahui bahwa diri kita sesungguhnya tidak bersifat tetap. Kita senantiasa terus berubah setiap saat.
Perubahan itu bisa dari diri yang negatif menjadi diri yang positif, diri yang positif menjadi diri yang negatif, diri yang negatif menjadi semakin positif.
Atau diri yang positif menjadi semakin positif. Itu semua bergantung pada pikiran (memori) dan perasaan mana yang sering hadir akibat dipicu oleh berbagai hal.
Diri kita yang bersifat tetap hanya terjadi ketika “proses menjadi” ini telah berhenti total alias telah menemui ajal.
Sehingga selama napas masih ada, maka selama itu pula kesempatan untuk “menjadi” terus terjadi pada diri kita.
Dan untuk mengubah diri dari diri negatif menjadi diri positif, maka kita mesti memahami prinsip dasar ini, yaitu:
Mempelajari pengetahuan adalah berpikir; menerapkan pengetahuan adalah melakukan dan mengalami;
Mampu mengulangi pengalaman dengan penuh perhatian adalah kebijaksanaan keberadaan.
Penulis : Syahril Syam, ST, C.Ht, L.NLP Pakar Pengembangan Diri






















