Kunci utama melakukan self healing adalah memantau hati (perasaan/emosi) sendiri. Karena apa yang dirasa menentukan seperti apa sel tubuh kita.
Banyak sekali beredar video-video pendek tentang orang-orang yang sehat dan berusia panjang dikarenakan mereka tinggal di daerah yang disebut Blue Zone.
Blue Zone adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan wilayah di dunia dimana penduduknya memiliki umur harapan hidup yang tinggi.
Secara umum, penduduk di berbagai wilayah ini memiliki tingkat kesehatan yang baik secara keseluruhan dan pola makan yang sehat.
Orang-orang yang tinggal di Blue Zone adalah orang-orang yang tingkat stresnya rendah, pola makan sehat, aktivitas fisik ringan yang teratur seperti berkebun, dan lingkungan sosial yang baik.
Semua syarat ini sesungguhnya merupakan sinyal yang konstruktif dan positif bagi sel tubuh. Seperti yang pernah dibahas, sel tubuh senantiasa menerima sinyal dari dua lingkungan, yaitu lingkungan eksternal berupa makanan dan lingkungan sosial; dan dari lingkungan internal berupa pikiran dan perasaan.
Jika kita memerhatikan keadaan Blue Zone, maka lingkungan eksternal dan lingkungan internal orang-orang yang tinggal itu koheren dan sinergi, sehingga wajar saja sinyal yang diterima sel tubuhnya adalah sinyal-sinyal yang konstruktif dan positif.
Dan ini membuat sel tubuh menjadi lebih baik. Akan berbeda jika lingkungan eksternal seseorang itu berupa rutinitas yang justru membuat pikiran dan perasaannya menjadi semakin stres.
Dan karena ia stres secara berkesinambungan, maka sinyal yang diberikan kepada sel tubuh adalah sinyal destruktif dan negatif.
Dan hal ini membuat sel tubuh menjadi egois dan tidak mau bekerjasama untuk saling memperbaiki sel yang butuh perbaikan.
Stres berkesinambungan membuat dirinya menjadi egois, dan itupula yang terjadi pada sel tubuhnya.
Karena kebanyakan dari kita tinggal di situasi dan kondisi yang kecil dukungannya dalam membantu kita menjadi tenang, maka sudah merupakan keharusan bagi kita untuk menciptakan ketenangan pada diri kita sendiri.
Dan cara menuju ketenangan itu dimulai dengan memerhatikan hati kita sendiri. Jika suasana hati berada dalam suasana stres walau mungkin secara pikiran nampak tenang dan tidak merasa ada masalah -maka segeralah mengganti perasaan stres itu dengan perasaan yang konstruktif dan positif.
Ciri sikap dan perilaku orang yang stres berkesinambungan adalah cenderung menjadi malas, lesu, tidak bersemangat, menginginkan kesamaan atau rutinitas
Mengalami kesulitan untuk fokus pada tugas-tugas tunggal, memulai proyek atau usaha seperti rutinitas diet atau olahraga tapi tidak pernah menindaklanjutinya
Gagal mendapatkan makna (hikmah) dari situasi yang terjadi, mengalami ledakan emosi ketika dunia rutinnya terganggu, cemas dan merasa tidak punya masa depan.
Cara untuk merubah hati yang stres adalah berlatih untuk masuk ke kondisi relaksasi dan fokuskan hati hanya kepada-Nya.
Seperti kata seorang arif, “Berusahalah untuk melunakkan hati dengan banyak berzikir dalam kesendirian.”
Artinya senantiasalah terhubung dengan Sang Mahakuasa disaat hati penuh perasaan stres. Dan ini mesti dilakukan dalam kondisi rileks karena relaksasi membuat hati menjadi fokus.
Tentunya mesti rutin berlatih, seperti halnya selama ini untuk menjadi stres pun butuh latihan. Karena stres tidak akan pernah terjadi kepada seseorang, kalau tidak pernah dilatih (dilakukan secara berulang-ulang pada dirinya sendiri).
Maka berlatihlah untuk memfokuskan hati hanya kepada Dia Yangmahapengasih dan Mahapenyayang, di setiap keadaan hati yang stres.
Penulis : Syahril Syam, ST, C.Ht, L.NLP Pakar Pengembangan Diri






















