Selamat Tinggal Penderitaan

Senin, 21 April 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Selamat Tinggal Penderitaan

Selamat Tinggal Penderitaan

Ada masanya dalam hidup di mana semuanya terasa gelap. Langkah berat, hati lelah, dan harapan serasa menghilang. Kita bertanya-tanya, sampai kapan harus bertahan? Sampai kapan harus memikul beban yang tampaknya tak kunjung reda?

Namun waktu adalah penyembuh yang diam-diam bekerja. Tanpa disadari, luka mulai mengering. Air mata tak lagi deras seperti dulu. Dan pelan-pelan, kita mulai bangkit. Tidak dengan teriakan kemenangan, tapi dengan napas panjang penuh rasa syukur: “Aku masih di sini.”

Hari ini, dengan segala keberanian, mari kita ucapkan: Selamat tinggal penderitaan.

BACA JUGA :  Dipandang dari Atas Kecil, Dilihat dari Bawah Juga Kecil

Bukan karena kita lupa sakitnya, tapi karena kita memilih untuk tidak tinggal di sana selamanya. Penderitaan mungkin telah menjadi bagian dari perjalanan, tapi ia bukan tujuan akhir. Ia hanya persinggahan yang mengajarkan banyak hal—tentang siapa kita, siapa yang benar-benar ada, dan apa yang benar-benar berarti.

Kita tidak harus menjadi sempurna untuk sembuh. Tidak perlu menunggu semuanya pulih total untuk melangkah. Yang kita butuhkan hanyalah keputusan kecil hari ini: untuk perlahan meninggalkan apa yang menyakiti, dan menyambut apa yang memberi harapan.

BACA JUGA :  Pertemanan Itu Seperti Arus Sungai, Mengalir Tanpa Harus Digenggam

Selamat tinggal rasa kecewa.
Selamat tinggal rasa takut.
Selamat tinggal luka lama yang terus membayangi.
Kini saatnya berkata, “Aku layak bahagia.”

Karena setelah hujan, selalu ada pelangi. Dan setelah penderitaan, selalu ada jalan menuju ketenangan.
Kita mungkin pernah hancur, tapi bukan berarti kita tidak bisa utuh kembali.

Jadi, untuk setiap jiwa yang pernah merasa runtuh—ingatlah: kamu masih bisa memilih.
Dan hari ini, kamu boleh memilih untuk berkata:
“Selamat tinggal penderitaan. Aku memilih untuk hidup.”

BACA JUGA :  Ramah ke Orang Lain, Galak di Rumah, Ini Penjelasan dan Solusinya

(IA)

Artikel Pilihan

Manusia Mengejar Hal yang Tidak Dibutuhkan
Dunia Tidak Jahat, Tapi Juga Tidak Peduli
Kita Hidup di Cerita Orang Lain
Otakmu Bisa Bohong, Tapi Kamu Percaya
Dipandang dari Atas Kecil, Dilihat dari Bawah Juga Kecil
Semua Masalah Pandangan Mata, Soal Rasa Mungkin Sama
Belajar Syukur dari Negeri yang Terluka Perang
Mendobrak Rezeki Uang Berlimpah Lewat Alam Bawah Sadar

Artikel Pilihan

Senin, 20 April 2026 - 15:08 WITA

Manusia Mengejar Hal yang Tidak Dibutuhkan

Senin, 20 April 2026 - 14:26 WITA

Dunia Tidak Jahat, Tapi Juga Tidak Peduli

Senin, 20 April 2026 - 14:14 WITA

Kita Hidup di Cerita Orang Lain

Senin, 20 April 2026 - 14:02 WITA

Otakmu Bisa Bohong, Tapi Kamu Percaya

Senin, 20 April 2026 - 13:44 WITA

Dipandang dari Atas Kecil, Dilihat dari Bawah Juga Kecil

Artikel Lainnya

Ilustrasi

NLP

7 Tahapan NLP Mengubah Pola Pikir

Selasa, 5 Mei 2026 - 14:28 WITA

Ilustrasi

NLP

Mengenal Terapi NLP dan Teknik Pemrogramannya

Selasa, 5 Mei 2026 - 13:55 WITA