Ada satu hal yang sering membuat kita gelisah: rezeki. Seolah-olah, semakin kita kejar, semakin jauh ia berlari.
Kita berusaha mati-matian, mengepalkan tangan, merancang strategi, tetapi justru kegelisahan yang semakin besar.
Lalu, mengapa tidak kita lepaskan saja? Bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan membiarkan semuanya mengalir dengan percaya bahwa Tuhan sudah mengatur segalanya.
Pernahkah kita melihat air sungai? Ia tak pernah tergesa-gesa, tetapi selalu sampai ke muara. Ia mengikuti alur tanpa berontak, tanpa memaksakan diri. Begitu pula dengan rezeki.
Rezeki itu sudah punya jalannya sendiri. Jika kita terlalu sibuk mengejar, kita justru bisa tersesat dalam ilusi.
Bukankah banyak orang yang bekerja keras tanpa kenal lelah, tetapi tetap merasa kekurangan?
Sementara yang lain tampak lebih santai, tetapi justru hidup berkecukupan?
“Jangan terlalu mengejar rezeki, biarkan ia datang kepadamu dengan sendirinya,” begitu kata orang bijak.
Bukan berarti kita tak perlu usaha, tetapi ada perbedaan antara bekerja dengan penuh keyakinan dan bekerja dengan penuh ketakutan.
Jika kita percaya bahwa rezeki Tuhan itu melimpah, kita akan bekerja dengan hati yang lapang, tanpa terbebani oleh kekhawatiran yang berlebihan.
Faktanya, rezeki bukan hanya soal uang. Ia hadir dalam bentuk kesehatan, ketenangan, keluarga yang harmonis, bahkan dalam segelas kopi yang menemani pagi.
Namun, banyak dari kita yang terlalu sibuk mengejar sesuatu yang tampak besar, hingga lupa mensyukuri yang sudah ada.
Jadi, berhentilah memburu rezeki seolah-olah ia adalah sesuatu yang harus dikejar dengan panik.
Percayalah, ia akan datang pada waktunya, selama kita tetap berusaha dengan niat baik dan hati yang berserah.
Biarkan mengalir seperti air, nikmati perjalanan hidup, dan percayalah bahwa Tuhan tak pernah lupa membagi rezeki bagi hambanya yang tetap percaya.
(IA)






















