Mindset, Respons, dan Efek Respons

Selasa, 19 Desember 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mindset, Respons, dan Efek Respons

Mindset, Respons, dan Efek Respons

Stres atau bahagia, semuanya bergantung pada diri kita sendiri. Kita sulit mengontrol orang, benda, tempat, waktu, dan peristiwa. Namun kita bisa mengontrol diri kita sendiri.

Manusia egois adalah manusia yang menginginkan orang, benda, tempat, waktu, dan peristiwa agar sesuai keinginannya. Namun lagi-lagi, tidak semua bisa dikontrol oleh diri kita.

Maka menjadi wajar ada begitu banyak orang yang stres kronis berkesinambungan. Karena mereka menginginkan orang, benda, tempat, waktu, dan peristiwa harus berubah sesuai keinginannya. Satu-satunya yang tidak dirubah adalah dirinya sendiri.

Dalam hidup ini, kita akan selalu berhadapan dengan orang, benda, tempat, waktu, dan peristiwa. Bagaimana cara kita menanggapinya adalah bentuk respons kita, yang dengan itu menentukan apakah kita bakal tenang ataukah stres kronis berkesinambungan.

BACA JUGA :  Berhentilah Menjadi : "Sudah Seperti Inilah Saya"

Dan cara kita merespons ditentukan oleh mindset kita. Mindset adalah seperangkat keyakinan yang secara otomatis mengendalikan cara kita merespons orang, benda, tempat, waktu, dan peristiwa.

Mindset lahir dari pandangan dunia, yaitu kacamata pengetahuan yang kita gunakan dalam memandang dunia dan kehidupan.

Jika mindset seseorang bersifat destruktif, dimana ia berkeyakinan bahwa kehidupan ini adalah sekadar keuntungan pribadi, maka respons yang akan rutin terjadi ketika menghadapi orang, benda, tempat, waktu, dan peristiwa adalah respons marah, dendam, kecewa, jengkel, merasa dianggap remeh, ataukah sakit hati.

Semua perasaan destruktif ini ketika rutin dirasakan setiap hari, maka disebut sebegai stres kronis berkesinambungan.

BACA JUGA :  Cara Memuji Anak dari Usia 6 Tahun hingga Kuliah

Artinya ia secara kontinyu mengalami stres setiap hari. Inilah emosi yang ketika terpendam dan terakumulasi selama beberapa dekade menyebabkan munculnya berbagai macam penyakit. Mulai dari ledakan emosi (kerasukan jiwa) hingga penyakit medis.

Secara umum, berbagai penyakit ini akan muncul ketika seseorang mencapai usia 35 tahun ke atas. Namun agaknya, telah banyak melanda generasi milenial yang baru berumur belasan tahun.

Dalam penelusuran saya, generasi milenial ini terlalu banyak diterpa berbagai stimulus dan kemudian direspons secara destrukif. Dimana dulu tidak ada medsos, sehingga stimulus yang berupa orang, benda, tempat, waktu, dan peristiwa hanya bisa terjadi saat berhadapan langsung dengan stimulus tersebut.

Namun ada begitu banyak generasi milenial yang merasa stres hanya karena kuotanya habis. Atau merasa stres hanya karena tidak ada kotak kontak sebagai tempat colokan listrik di sekitarnya. Dan berbagai macam stimulus medsos yang membuatnya rutin mengalami stres.

BACA JUGA :  Taklukkan Hawa Nafsumu Atau Kamu Akan Kalah dan Binasa

Dari hal ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa karena respons kita bersifat otomatis, maka penting bagi kita untuk menata mindset (keyakinan) kita.

Kita mesti belajar memiliki pandangan dunia yang konstruktif agar terhayati menjadi mindset yang benar dan baik bagi diri kita. Sehingga ketika kita menghadapi orang, benda, tempat, waktu, dan peristiwa, respons yang kita berikan bersifat menentramkan jiwa.

 

 

Penulis : Syahril Syam, ST, C.Ht, L.NLP Pakar Pengembangan Diri

Artikel Pilihan

Manusia Mengejar Hal yang Tidak Dibutuhkan
Dunia Tidak Jahat, Tapi Juga Tidak Peduli
Kita Hidup di Cerita Orang Lain
Otakmu Bisa Bohong, Tapi Kamu Percaya
Dipandang dari Atas Kecil, Dilihat dari Bawah Juga Kecil
Semua Masalah Pandangan Mata, Soal Rasa Mungkin Sama
Belajar Syukur dari Negeri yang Terluka Perang
Mendobrak Rezeki Uang Berlimpah Lewat Alam Bawah Sadar

Artikel Pilihan

Senin, 20 April 2026 - 15:08 WITA

Manusia Mengejar Hal yang Tidak Dibutuhkan

Senin, 20 April 2026 - 14:26 WITA

Dunia Tidak Jahat, Tapi Juga Tidak Peduli

Senin, 20 April 2026 - 14:14 WITA

Kita Hidup di Cerita Orang Lain

Senin, 20 April 2026 - 14:02 WITA

Otakmu Bisa Bohong, Tapi Kamu Percaya

Senin, 20 April 2026 - 13:44 WITA

Dipandang dari Atas Kecil, Dilihat dari Bawah Juga Kecil

Artikel Lainnya

Ilustrasi

NLP

7 Tahapan NLP Mengubah Pola Pikir

Selasa, 5 Mei 2026 - 14:28 WITA

Ilustrasi

NLP

Mengenal Terapi NLP dan Teknik Pemrogramannya

Selasa, 5 Mei 2026 - 13:55 WITA