Motivasi

Mindset, Respons, dan Efek Respons

Icky
×

Mindset, Respons, dan Efek Respons

Sebarkan artikel ini
Mindset, Respons, dan Efek Respons
Mindset, Respons, dan Efek Respons

Stres atau bahagia, semuanya bergantung pada diri kita sendiri. Kita sulit mengontrol orang, benda, tempat, waktu, dan peristiwa. Namun kita bisa mengontrol diri kita sendiri.

Manusia egois adalah manusia yang menginginkan orang, benda, tempat, waktu, dan peristiwa agar sesuai keinginannya. Namun lagi-lagi, tidak semua bisa dikontrol oleh diri kita.

Maka menjadi wajar ada begitu banyak orang yang stres kronis berkesinambungan. Karena mereka menginginkan orang, benda, tempat, waktu, dan peristiwa harus berubah sesuai keinginannya. Satu-satunya yang tidak dirubah adalah dirinya sendiri.

Dalam hidup ini, kita akan selalu berhadapan dengan orang, benda, tempat, waktu, dan peristiwa. Bagaimana cara kita menanggapinya adalah bentuk respons kita, yang dengan itu menentukan apakah kita bakal tenang ataukah stres kronis berkesinambungan.

BACA JUGA :  Kiat Bangun Usaha dengan Sentuhan Spiritual Teknik ABS

Dan cara kita merespons ditentukan oleh mindset kita. Mindset adalah seperangkat keyakinan yang secara otomatis mengendalikan cara kita merespons orang, benda, tempat, waktu, dan peristiwa.

Mindset lahir dari pandangan dunia, yaitu kacamata pengetahuan yang kita gunakan dalam memandang dunia dan kehidupan.

Jika mindset seseorang bersifat destruktif, dimana ia berkeyakinan bahwa kehidupan ini adalah sekadar keuntungan pribadi, maka respons yang akan rutin terjadi ketika menghadapi orang, benda, tempat, waktu, dan peristiwa adalah respons marah, dendam, kecewa, jengkel, merasa dianggap remeh, ataukah sakit hati.

Semua perasaan destruktif ini ketika rutin dirasakan setiap hari, maka disebut sebegai stres kronis berkesinambungan.

BACA JUGA :  Menyadari Efek Kata-kata Menjadi Perasaan

Artinya ia secara kontinyu mengalami stres setiap hari. Inilah emosi yang ketika terpendam dan terakumulasi selama beberapa dekade menyebabkan munculnya berbagai macam penyakit. Mulai dari ledakan emosi (kerasukan jiwa) hingga penyakit medis.

Secara umum, berbagai penyakit ini akan muncul ketika seseorang mencapai usia 35 tahun ke atas. Namun agaknya, telah banyak melanda generasi milenial yang baru berumur belasan tahun.

Dalam penelusuran saya, generasi milenial ini terlalu banyak diterpa berbagai stimulus dan kemudian direspons secara destrukif. Dimana dulu tidak ada medsos, sehingga stimulus yang berupa orang, benda, tempat, waktu, dan peristiwa hanya bisa terjadi saat berhadapan langsung dengan stimulus tersebut.

Namun ada begitu banyak generasi milenial yang merasa stres hanya karena kuotanya habis. Atau merasa stres hanya karena tidak ada kotak kontak sebagai tempat colokan listrik di sekitarnya. Dan berbagai macam stimulus medsos yang membuatnya rutin mengalami stres.

BACA JUGA :  Keberlimpahan Hidup Itu Bukan hanya Materi Berlimpah

Dari hal ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa karena respons kita bersifat otomatis, maka penting bagi kita untuk menata mindset (keyakinan) kita.

Kita mesti belajar memiliki pandangan dunia yang konstruktif agar terhayati menjadi mindset yang benar dan baik bagi diri kita. Sehingga ketika kita menghadapi orang, benda, tempat, waktu, dan peristiwa, respons yang kita berikan bersifat menentramkan jiwa.

 

 

Penulis : Syahril Syam, ST, C.Ht, L.NLP Pakar Pengembangan Diri

Jalan Hidup Tak Semudah 5+5=10
Motivasi

Jalan Hidup Tak Semudah 5+5=10 mengingatkan kita bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai hitungan, tetapi selalu punya maksud yang lebih besar. Lewat moitvasi spiritual ini, kita diajak percaya bahwa Terkadang Tuhan Beri Jalan 6×2+10-2-11+1=10 untuk membentuk kita menjadi lebih kuat dan bijak.

Kekuatan Sugesti: Kata-Kata adalah Energi dan Doa
Motivasi

Kekuatan sugesti mengingatkan kita bahwa setiap ucapan punya dampak, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Saat kita sadar bahwa kata kata adalah energi, kita pun lebih waspada dengan ucapanmu dan memahami bahwa ucapanmu adalah doa.

Kemarahan Terpendam Memunculkan Penyakit Mental dan Fisik
Motivasi

Di artikel ini, Anda akan menemukan cara mengatasi baper yang sederhana dan mudah diterapkan agar tidak mudah tersinggung oleh hal-hal kecil. Yuk, pahami langkah-langkah praktis untuk Hindari Baper dan menjaga hati tetap lebih tenang setiap hari.