Semua keinginan dan hasrat kita bersifat emosional. Berbagai keinginan dan hasrat hadir berupa perasaan tertentu yang kita rasakan.
Bersamaan perasaan ini hadir dorongan, keinginan, dan hasrat akan sesuatu. Mulai dari keinginan untuk makan, minum, memperoleh benda-benda, hingga menyukai seseorang.
Namun di sisi lain, semua keinginan dan hasrat ini juga membuat kita mengalami derita kehidupan, baik itu berupa obsesi yang berlebihan ataupun ketika keinginan dan hasrat itu tidak terpenuhi.
Terlalu banyak makan membuat diri menderita. Tidak makan pun membuat diri menderita. Memenuhi segala hasrat membuat kehampaan hidup yang membuat kehidupan tak lagi bernilai dan bermakna. Tidak terpenuhinya hasrat juga bisa membuat derita kehidupan.
Oleh sebab itu hanya ada dua solusi dari keadaan ini, yaitu mematikan emosi atau mengontrol emosi kita.
Mematikan emosi berarti berlatih agar membuat diri mati rasa akan berbagai keinginan dan hasrat. Saat seseorang tak lagi memiliki emosi/perasaan akan cinta dunia dengan segala gemerlapnya, maka tidak akan ada lagi derita hidup.
Karena keinginan dan hasrat bersifat emosional, maka saat emosi dimatikan, tidak akan ada lagi keinginan dan hasrat.
Namun untuk melihat hal ini lebih jelas, kita akan melihat bagaimana cara otak kita bekerja. Kenapa mesti melihat otak? Karena pola kerja otak adalah sebuah sistem yang menjadi rancangan bagi manusia sejak kepenciptaannya.
Dari pengamatan akan otak, kita juga mengetahui bahwa semua keinginan dan hasrat bersifat emosional. Terdapat berbagai macam dorongan emosional yang kemudian terwujud menjadi keinginan dan hasrat.
Dan ternyata ada juga bagian otak kita yang bernama prefrontal korteks, yang bertugas dan berfungsi untuk mengendalikan semua dorongan emosional.
Dari posisinya tepat di belakang dahi, terbesar dari empat lobus neokorteks ini berfungsi sebagai pusat kendali kita, menyaring gangguan, memusatkan perhatian kita, dan menenangkan badai yang dihasilkan pusat persepsi kita dalam menjaga kita tetap terhubung dengan dunia luar dan dalam diri.
Lebih dari segalanya, prefrontal korteks bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan sadar, disengaja, bertujuan, disengaja yang kita lakukan berkali-kali setiap hari.
Ini adalah rumah dari “diri sejati” kita. Bayangkan prefrontal korteks sebagai konduktor di depan orkestra besar. Sebagai konduktor yang memiliki koneksi langsung ke semua bagian lain dari otak, dan oleh karena itu, mengontrol bagaimana bagian otak lainnya beroperasi.
Hanya prefrontal korteks yang mampu melakukan fungsi tingkat tinggi yang diperlukan untuk melakukan tugas tingkat tinggi itu. Prefrontal korteks kita mampu mengatasi kebiasaan pikiran kita dan kecenderungan kita untuk merasa daripada berpikir.
Hanya ketika kita dengan sengaja berlatih menggunakan kehendak kita melalui penggunaan prefrontal korteks, kita dapat mencapai jenis ketenangan dan kontrol yang diperlukan untuk keluar dari siklus keinginan dan hasrat emosional yang mendominasi dan mendikte sebagian besar kepribadian kita.
Pilihan yang kita pilih, dan reaksi yang kita buat. Artinya manusia dirancang dan diciptakan agar bisa mengontrol semua keinginan dan hasrat emosional.
Dan “mengontrol” berarti melatih diri kita untuk taat dan patuh pada aturan-aturan yang benar dan baik. Semua keinginan dan hasrat hanya dibolehkan terpenuhi selama sesuai dan mengikuti aturan-aturan tersebut.
Mungkin inilah maksud ketundukan total kepada Sang Maha Pencipta. Karena saat hati kita benar-benar dipenuhi rasa cinta kepada-Nya, maka semua cinta kita yang lain kepada dunia hanyalah berupa majazi saja.
Kita mencintai lawan jenis, mencintai sesama makhluk, benda, dan alam semesta adalah karena kecintaan hakiki kita kepada-Nya. Yang dengan itu pula kita senantiasa berlaku adil, toleran, kasih, dan sayang kepada makhluk dan alam semesta. Dan tidak berlaku zalim kepada diri sendiri, makhluk, dan alam semesta.
Penulis : Syahril Syam, ST, C.Ht, L.NLP Pakar Pengembangan Diri






















