Melawan Stereotype yang Melemahkan Mindset

Senin, 18 September 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Stereotype

Ilustrasi Stereotype

Stereotype adalah istilah dalam Psikologi yakni persepsi. Persepsi memunculkan Prasangka. Dengan Stereotype membentuk “pelabelan” kepada diri sendiri, orang lain, atau kelompok.

Pelabelan dalam Stereotype ini nyaris bermuatan negatif ketimbang positifnya, sehingga sangat mempengaruhi mindset seseorang.

Misalkan Stereotype di mata orang asing tentang Indonesia, apa yang ada di mindset mereka?

Jawabannya adalah Indonesia itu berada di Bali, Negara dengan wilayah kecil, hanya punya satu bahasa, suku Indonesia hanya ada di Jawa dan Bali saja, dan tukang telat.

Stereotype seperti itu sudah terbentuk di mindset orang asing dan menjadi keyakinan mereka. Sehingga untuk menjelaskan tentang Indonesia, mereka sudah terlabelkan dengan persepsi itu.

Sementara Stereotype lainnya selain tentang Indonesia sangat banyak sekali kita bisa jumpai dan tidak asing lagi di dengar di telinga kita. Seperti contoh Stereotype di bawah ini :

1) Pria tidak boleh jualan atau pakai skincare.

2) Wanita itu kerjanya di dapur bukan di kantor.

3) Anak laki-laki dididik untuk menjadi macho.

4) Pria kalau nangis tuh cemen.

5) Idol Korea tuh semuanya muka plastik.

Dari Stereotype tersebut, terciptalah suatu stigma bahwa laki-laki tidak boleh menangis dan tidak boleh jualan skincare karena itu hanya dilakukan oleh perempuan. Wanita itu kerjanya di dapur.

Stigma yang terbentuk dari persepsi itu, maka seseorang tersebut bisa berpotensi diskriminasi. Diskriminasi adalah perbuatan menyimpang yang dilakukan kepada seseorang akibat adanya pengelompokkan.

Orang yang sudah memiliki stereotype terhadap kelompok tertentu cenderung untuk mempertahankan persepsi yang sudah terbentuk.

Artinya, stereotype negatif juga akan diikuti oleh prasangka dan diskriminasi. Akibatnya, banyak konflik yang terjadi di sosial media ataupun dunia nyata.

Sebagai contoh, kita bisa memakai lagi fenomena yang sudah ada di atas. Banyak orang di Indonesia memegang persepsi bahwa laki-laki harus macho. Ini adalah stereotype awal yang sudah terbentuk.

BACA JUGA :  Pelatihan Hipnotis Makassar

Nah, Beberapa masa kemudian terjadi Korean wave, masa K-Pop berjaya di seluruh dunia. Dari sana muncullah tren perawatan wajah dan make-up yang terinspirasi dari para idol, tidak peduli perempuan ataupun laki-laki.

Pemahaman baru ini tentu saja bertentangan dengan apa yang sudah menjadi norma di masyarakat. Karena proses tersebut berlawanan, maka akan muncul prasangka bahwa laki-laki yang memakai skincare atau make-up sebagai banci.

Pada akhirnya, orang-orang yang masih memegang teguh norma lama mulai melakukan pelecehan secara verbal maupun fisik kepada orang-orang yang mengidolakan atau bahkan kepada idol-idol itu sendiri. Inilah yang disebut sebagai diskriminasi yang berujung pada pem-bully-an.

Stereotype terbentuk karena dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya kita. Media, keluarga, dan teman sebaya dapat berperan penting dalam membentuk pandangan kita terhadap kelompok tertentu sebagai bias pemrosesan informasi.

Stereotype juga dapat mempengaruhi perilaku kita. Konsep yang dikenal sebagai self-fulfilling prophecy mengatakan bahwa harapan kita terhadap seseorang dapat mempengaruhi cara mereka bertindak.

Jika kita memiliki stereotype negatif terhadap suatu kelompok, kita mungkin berperilaku dengan cara yang memicu respons yang sesuai dengan stereotype tersebut.

Misalnya, seorang guru yang percaya bahwa siswa dari kelompok tertentu kurang mampu secara akademik dapat memberikan ekspektasi rendah pada siswa-siswa tersebut, yang pada akhirnya mempengaruhi pencapaian mereka.

Apa Hanya itu Saja Stereotype?

Tidak, stereotype ini sangat luas dan universal, persepsi dari nenek moyang yang sudah lama pun itu dijadikan doktrin yang kuat.

Sehingga untuk mensabotase stigma persepsi yang sudah terbentuk bertahun-tahun lamanya itu sulit untuk kita keluar. Karena terperangkap akan adanya aturan dan norma budaya.

Sebagai contoh, di Sulawesi Selatan misalnya, ada suatu Kabupaten di Bulukumba bernama Kajang, Stereotype budaya ini sudah terbentuk pakaian yang harus serba hitam tanpa penghalas kaki ketika masuk di wilayah ini.

BACA JUGA :  Membingkai Ulang Suatu Frame dengan Cara Mengganti Konteks

Stereotype nya adalah siapapun yang masuk tanpa pakaian hitam dan memakai alas kaki maka terkena doti-doti atau tidak selamat ketika pulang. (Inilah stereotype yang terbentuk bertahun-tahun dan menjadi keyakinan mereka)

Jadi stereotype ini sangat luas sekali, bahkan tukang bengkel ban pun menggunakan stereotype ini untuk menggaet pelanggan membeli ban motor miliknya.

Contoh Dialog Stereotype Tukang Bengkel Ban :

Pelanggan : “Mas, saya punya ban baru, baru beli dari online. Berapa ongkos pasang ban baru pada motor saya?”

Tukang Bengkel :  “Rp 50 ribu ongkos pasangnya pak, kalau beli ban barunya disini ongkos pasangnya gratis,”

Tukang Bengkel : “Ban di online itu rata-rata ban palsu dan murah  seminggu sudah rusak.

Pelanggan : “Jadi mas, rugi dong saya beli ban baru di online kalau seminggu langsung rusak”

Tukang Bengkel : “Iya pak, rugi”

Dari dialog di atas Stereotype Tukang Bengkel Ban adalah : palsu dan murah  seminggu sudah rusak

Bagaimana Sikap Kita dengan Fenomena Stereotype Ini?

Dalam dunia Hypnosis, Stereotype bisa dimaknai seperti Auto Sugesti atau Pos Hypnotic sedangkan dalam dunia NLP (Neuro Linguistic Programming) disebut sebagai istilah Frame & Framing

Meski penilaian Stereotype nyaris semuanya negatif namun tetap ada sisi positifnya tergantung bagaimana cara kita meresponnya.

Contoh Cara Merespon Atau Men-down-kan Tukang Bengkel  :

Tukang Bengkel Bilang : “Ban di online itu rata-rata ban palsu dan murah  seminggu sudah rusak.

Pelanggan Cerdas Jawabnya : “Tidak seperti itu Pak, justru saya sudah menggunakan 5 Tahun lalu. 5 Tahun ini bukan waktu seminggu. Harganya murah kualitasnya luar biasa. Tergantung cara pemakaiannya saja. Bapak cukup doakan saja agar awet ban baru saya.”   

Tujuan Stereotype tukang bengkel tersebut agar kita membeli ban barunya dengan harga mahal plus ongkos pasang gratis. Padahal ongkos pasang ban itu murah tidak sampai Rp 50 ribu, umumnya Rp 20 ribu.

BACA JUGA :  Buang Sampah Emosimu Pada Tempatnya

Dalam dunia politik, bisnis, budaya, pergaulan, dan lain sebagainya Stereotype ini tidak terlepas dari objek tersebut bahkan terhadap pada diri sendiri.

Sebagian banyak orang dipermainkan oleh pelabelan tersebut, sehingga wajar banyak mengalami stres, trauma dan depresi.

Sikap kita dalam mengatasi Stereotype ini baik karena disengaja dikreasikan oleh pihak lain, atau karena kita terjebak pada frame kita sendiri sehingga merugikan diri kita, maka langkah yang mesti kita ambil adalah melakukan pembingkaian ulang, atau reframing. Sama seperti contoh jawaban pelanggan kepada tukang bengkel.

Reframing adalah secara sengaja membingkai ulang suatu kalimat sehingga memiliki makna yang betul-betul berubah secara dramatis.

Dengan demikian dapat dikatakan, reframing dilakukan untuk memberikan makna ulang yang berbeda, dengan tujuan agar kawan bicara kita :

1 Memiliki perspektif yang berbeda

2 Memiliki pilihan tindakan lain

3 Lebih dibesarkan hatinya

4 Memilih Positif thinking

5 Terlepas dari keterikatan makna.

Yang perlu dipahami adalah makna sebuah kejadian itu tidak melekat pada peristiwanya, melainkan tergantung dari SUDUT mana kita memberi makna. Kata-kata baru akan memiliki makna, jika dan hanya jika ia diletakkan dalam konteks tertentu.

Kita adalah stigma yang dipermainkan oleh stigma persepsi itu sendiri. Sehingga wajar banyak terjebak pada zona persepsi itu sendiri. Untuk keluar mulailah dengan Membingkai Ulang atau melakukan dengan cara Self Hypnosis.

Sekarang tugas anda tuliskan Stereotype pada diri sendiri, sosial, kesehatan, dan budaya sebagai penghadang pola pikir dan mindset itu sendiri. Selamat merenungkan dan berpikir!

Artikel Pilihan

Cara Membentuk Kebiasaan Berpikir yang Lebih Baik
Pola Pikir yang Membuat Seseorang Sulit Berkembang
Hipnosis Bukan Sihir, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Bangkitkan Kekuatan “Jonimu” dengan Hipnosis dan NLP
Rahasia Menggapai Impian dengan Pikiran Bawah Sadar
Rahasia Pikiran Bawah Sadar: Menguasainya untuk Hidup Sukses
Sugesti Hipnosis untuk Awet Muda
Sugesti Hipnosis untuk Meningkatkan Kemakmuran Finansial

Artikel Pilihan

Senin, 20 April 2026 - 15:46 WITA

Cara Membentuk Kebiasaan Berpikir yang Lebih Baik

Senin, 20 April 2026 - 15:28 WITA

Pola Pikir yang Membuat Seseorang Sulit Berkembang

Selasa, 6 Januari 2026 - 17:13 WITA

Hipnosis Bukan Sihir, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Sabtu, 20 September 2025 - 16:47 WITA

Bangkitkan Kekuatan “Jonimu” dengan Hipnosis dan NLP

Sabtu, 18 Januari 2025 - 17:03 WITA

Rahasia Menggapai Impian dengan Pikiran Bawah Sadar

Artikel Lainnya

Ilustrasi

NLP

7 Tahapan NLP Mengubah Pola Pikir

Selasa, 5 Mei 2026 - 14:28 WITA

Ilustrasi

NLP

Mengenal Terapi NLP dan Teknik Pemrogramannya

Selasa, 5 Mei 2026 - 13:55 WITA