Hipnosis adalah suatu kondisi kesadaran, dimana pikiran kita berada dalam kondisi relaksasi yang bersifat fokus internal.
Ini berarti tubuh kita tidak mesti rileks, namun ketika diiringi oleh tubuh yang rileks, maka disebut sebagai respon relaksasi.
Respon relaksasi telah diteliti secara mendalam oleh Herbert Benson dari Harvard Medical School.
Penelitian Benson menunjukkan bahwa mereka yang rutin melakukan respon relaksasi akan bisa mengatasi reaksi alergi pada kulit, kecemasan, depresi, asma, herpes, anxiety, gerd, psikosomatik, insomnia, konstipasi, diabetes melitus, sakit maag, pusing,
Kemudian kelelahan, hipertensi, infertilitas, insomnia, mual dan muntah saat hamil, tegang, radang sendi atau artritis reumatoid, efek samping dari sakit kanker, efek samping dari AIDS,
Selanjutnya, sakit punggung, sakit kepala, sakit perut, sakit otot, sakit persendian, sakit pascaoperasi, sakit di leher, sakit lengan/tangan dan kaki. Dan masih banyak lagi.
Selain Herbert Benson dengan teknik respon relaksasi, Jon Kabat Zinn, seorang peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Massachusets mempopulerkan satu teknik lain yang diadaptasi dari meditasi dan disebut sebagai mindfulness.
Dalam konteks ini didefinisikan sebagai suatu keadaan, dimana pikiran dan perasaan yang hidup sepenuhnya di masa sekarang. Mindfulness merupakan pemusatan perhatian (atensi) dasar yang mendasari seluruh aliran praktik meditasi.
Manfaat dari mindfulness juga dapat mengobati depresi, kecemasan, meningkatkan kesehatan mental dan juga tubuh. Mindfulness dalam konteks klinis terletak pada kemampuan kesadaran memutus response set yang mengendalikan diri individu.
Response set adalah pola asosiasi terkondisi yang memfasilitasi pola perilaku, pola pikir, dan respon individu terhadap stimulus atau situasi tertentu. Response set dapat diaktifkan baik oleh stimuli internal maupun eksternal, seperti sugesti dan beragam sinyal yang berasal dari lingkungan.
Mindfulness dapat memutus respon perilaku otomatis yang selama ini menguasai diri seseorang, baik disadari atau tidak, dan membuat individu menjadi sadar akan pola perilaku maladaptif yang ia alami atau lakukan.
Baik hipnosis maupun mindfulness, keduanya terkait pada pemindahan fokus dari dunia eksternal (luar diri) ke dunia internal (dalam diri). Hal yang sama juga terjadi pada kondisi khusyuk.
Tentu saja terdapat perbedaan teknik dalam pemusatan fokus internal pada hipnosis, mindfulness, dan khusyuk. Khusyuk mesti dialami ketika kita melakukan shalat, zikir, dan wirid. Karena tanpa itu, maka hanya lisan kita saja yang berucap, hanya tubuh kita saja yang bergerak, tapi tanpa makna apapun dikarenakan pikiran dan hati justru terfokus pada dunia eksternal.
Sehingga sejatinya khusyuk adalah pemusatan pikiran dan hati hanya kepada Tuhan. Pada saat ini kita mulai berpindah fokus dari dunia eksternal ke dunia internal dengan menyadari dengan sepenuh hati setiap bacaan dan gerakan ibadah, juga saat zikir dan wirid. Inilah kondisi ketika tubuh, waktu, dan lingkungan sudah tidak lagi mempengaruhi diri kita.
Oleh sebab itu kondisi khusyuk membuat kita juga mengalami respon relaksasi dan membuat kita mengalami kondisi perhatian penuh. Hanya saja perhatian penuh kita murni tertuju pada Kebesaran Tuhan.
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang mukmin. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya” (QS. 23:1-2).
Dan orang yang beruntung adalah orang yang bahagia, sehingga khusyuk dalam konteks ini bisa juga berfungsi sebagai terapi pada diri sendiri agar sehat jasmani, mental, dan bahagia.
Praktek khusyuk ini juga telah sangat lama dipraktekkan oleh para nabi-nabi terdahulu, sehingga merupakan suatu teknik yang telah lama teruji.
Penulis : Syahril Syam, ST, C.Ht, L.NLP Pakar Pengembangan Diri






















