Motivasi

Kebiasaan Pesimis

Icky
×

Kebiasaan Pesimis

Sebarkan artikel ini
Kebiasaan Pesimis
Kebiasaan Pesimis

Perhatikanlah percakapan singkat antara ibu dan anaknya berikut ini. Namun sebelumnya saya akan menceritakan secara singkat latar belakang percakapan mereka.

Sang ibu ternyata sedang berbelanja bersama anaknya yang berumur 8 tahun. Mereka berdua, setelah berbelanja, menuju ke tempat parkir, dimana mobil mereka diparkir.

Dan inilah percakapan mereka:

Anak: Ibu, sisi mobil ini yang penyok.

Ibu: Sial, Bob (suaminya) pasti marah besar.

Anak: Ayah menyuruh ibu untuk selalu memarkir mobil barunya jauh dari mobil-mobil yang lain.

Ibu: Sial, hal-hal seperti ini selalu saja menimpaku. Aku sangat malas, aku hanya tidak ingin membawa barang belanjaan dari tempat yang jauh. Bodoh sekali aku ini.

Seperti yang kita lihat dan rasakan, kejadian seperti ini terkadang menimpa seseorang, tapi bukan kejadiannya yang akan kita fokuskan pada tulisan kali ini. Tapi pada percakapan sederhana dan yang terus berulang, yang kebanyakan orang lakukan ketika menghadapi sebuah masalah.

Penelitian menyebutkan, anak-anak yang belum masuk usia pubertas jauh lebih optimis daripada orang dewasa. Hal tersebut dapat kita lihat pada percakapan sang anak di atas.

BACA JUGA :  Bekerja dan Bersyukur

Sang anak dan ibunya melihat masalah yang sama, tapi sang anak lebih memfokuskan pembicaraan kepada hal-hal yang bersifat spesifik pada masalah dan bagaimana agar terhindar dari masalah tersebut.

Coba perhatikan kata sang anak: “Sisi mobil ini yang penyok”. Anak langsung memfokuskan pembicaraan pada “masalah apa yang sedang terjadi”.

Bahkan sang anak berbicara juga tentang pencegahannya: “Ayah menyuruh ibu untuk selalu memarkir mobil barunya jauh dari mobil-mobil yang lain”.

Apa yang dipikirkan oleh sang anak, yang bersifat lebih optimis, sangat berbeda dengan sang ibu (bahkan hampir semua orang dewasa) ketika menghadapi masalah tersebut.

Sang ibu terlihat lebih fokus pada: “Hal-hal seperti ini selalu saja menimpaku”. Ini adalah kalimat ambigu karena kata “hal-hal seperti ini” tidak jelas mengacu pada apa atau sesuatu yang spesifik.

Masalahnya adalah mobil yang penyok (kasusnya jelas dan spesifik) tapi perhatiannya justru terfokus pada sesuatu yang bersifat universal, seolah-olah semua kejadian buruk selalu menimpanya.

BACA JUGA :  Patahkan Kesialan, Tumbuhkan Keberuntungan

Kalimat tersebut juga bersifat permanensi. Artinya akan selalu terjadi hal-hal yang buruk pada dirinya. Karena di dalam kalimat tersebut sang ibu menggunakan kata “selalu”.

Ini berarti semua hal buruk (bersifat universal) akan terus terjadi pada dirinya (dengan menggunakan kata “selalu” pada kalimat tersebut di atas).

Sang ibu ketika berucap secara spontan pada kejadian tersebut, tidak memberikan syarat terhadap kemalangan yang baru saja menimpanya atau menetapkan batasan tentang masalah-masalah yang selalu dialaminya.

Selain itu, ucapan tersebut sangat bersifat pribadi: “menimpaku”. Hal ini mengisyaratkan bahwa semua kejadian buruk hanya menimpa dirinya saja dan sepertinya tidak menimpa orang lain, hanya dirinya saja.

Jika seseorang sudah berasumsi bahwa setiap kejadian buruk hanya menimpa dirinya, maka dengan mudah dia akan melihat dirinya sebagai korban penderitaan.

Kalimat berikutnya membuat kondisi sang ibu lebih parah lagi: “Aku sangat malas”. Seperti halnya kalimat yang tadi kita bahas, kalimat ini juga bersifat permanensi atau penetapan penilaian terhadap diri sendiri.

BACA JUGA :  Seri 2, Gran Turismo, Realistis dan Parenting

Dan kalimat ini pun bersifat ambigu karena tidak mengacu pada hal spesifik tertentu. Seharusnya yang dikatakan sang ibu tadi adalah:

“Tadi aku sedang malas”. Namun karena kalimatnya yang bersifat non spesifik, maka penetapan “malas” akan mengacu pada semua situasi pada diri sang ibu tersebut.

“Aku hanya tidak ingin membawa barang belanjaan dari tempat yang jauh”. Kalimat bersifat “menarik kenyataan yang tidak diinginkan”. Seharusnya kalimatnya menjadi lebih positif dengan berkata:

“Tadi aku ingin membawa barang belanjaanku dari tempat yang lebih dekat”. Dan kalimat terakhir menutup kesimpulannya sendiri bahwa dirinya memang selalu seperti itu: “Bodoh sekali aku ini”. Kalimat ini bersifat permanensi, ambigu, dan menyerang diri sendiri.

Itulah serangkaian kalimat pendek, yang dilakukan oleh kebanyakan orang dewasa (khususnya para orang tua) dalam menghadapi situasi yang tidak diharapkan.

Kebiasaan ini akan didengar oleh anak-anak dan kemudian anak-anak akan menggunakan kemampuan alaminya, yaitu meniru apa yang dilakukan oleh orang tuuanya. Dan akhirnya jadilah sebuah mata rantai kebiasaan pesimis.

Jalan Hidup Tak Semudah 5+5=10
Motivasi

Jalan Hidup Tak Semudah 5+5=10 mengingatkan kita bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai hitungan, tetapi selalu punya maksud yang lebih besar. Lewat moitvasi spiritual ini, kita diajak percaya bahwa Terkadang Tuhan Beri Jalan 6×2+10-2-11+1=10 untuk membentuk kita menjadi lebih kuat dan bijak.

Kekuatan Sugesti: Kata-Kata adalah Energi dan Doa
Motivasi

Kekuatan sugesti mengingatkan kita bahwa setiap ucapan punya dampak, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Saat kita sadar bahwa kata kata adalah energi, kita pun lebih waspada dengan ucapanmu dan memahami bahwa ucapanmu adalah doa.

Kemarahan Terpendam Memunculkan Penyakit Mental dan Fisik
Motivasi

Di artikel ini, Anda akan menemukan cara mengatasi baper yang sederhana dan mudah diterapkan agar tidak mudah tersinggung oleh hal-hal kecil. Yuk, pahami langkah-langkah praktis untuk Hindari Baper dan menjaga hati tetap lebih tenang setiap hari.