Mungkin kita sering atau pernah mendengar seseorang yang mengeluhkan kesehatannya kerap mengalami gangguan, baik gangguan yang sama berulang-ulang, yang silih berganti dari satu gangguan ke gangguan lainnya, atau mungkin keluhan yang seakan sangat sulit untuk disembuhkan.
Biasanya berdasarkan pemeriksaan fisik maupun laboratorium klinis tidak ditemukan adanya masalah yang spesifik terkait dengan kondisi yang dikeluhkannya.
Jika itu yang terjadi, maka besar kemungkinan orang tersebut mengalami masalah yang dikenal dengan gangguan psikosomatik.
Apa itu psikosomatik ? Psikosomatik berasal dari kata psycho (jiwa, pikiran) dan soma (raga, tubuh) yang mengacu pada adanya keterkaitan antara kesehatan fisik (raga) dan masalah-masalah yang ada di dalam pikiran (jiwa).
Psikosomatik biasanya ditandai oleh adanya keluhan gangguan kesehatan fisik, yang mungkin menetap ataupun berpindah-pindah dari satu keluhan kepada keluhan lainnya.
Bisa jadi orang yang mengalaminya akan mengeluhkan sakit pada perut (pencernaan), rasa nyeri dan tegang pada otot-otot sekitar bahu dan leher, gangguan pernafasan, nyeri lambung, dan berbagai keluhan lainnya yang seakan datang silih berganti atau tak kunjung hilang.
Orang yang mengalami gangguan psikosomatik seringkali tidak menyadari bahwa berbagai keluhan yang dideritanya itu bersumber dari adanya masalah-masalah di dalam pikiran (hati, jiwanya).
Tidak heran jika kemudian banyak yang mencoba berbagai terapi fisik atau berpindah dari satu dokter ke dokter lainnya karena merasa tidak menemukan jawaban dan penyelesaian dari apa yang dikeluhkannya.
Gejala Yang Mungkin Muncul
Gangguan psikosomatik dapat ditandai dari berbagai gejala klinis yang dikeluhkan, diantaranya adalah sakit kepala, migrain, diare, sembelit, demam, alergi, tekanan darah tinggi, maag, ketegangan otot (nyeri, kaku), impair impotensi, disfungsi ereksi, hingga gejala-gejala penyakit berat seperti buta/tuli/lumpuh mendadak, TBC, penglihatan ganda, cancer dan berbagai gejala lainnya.
Kurangnya pengetahuan tentang gangguan psikosomatik membuat orang tidak tahu apa yang harus dilakukan atas keluhannya.
Banyak yang kemudian mengkaitkan keluhannya itu dengan sesuatu yang bersifat metafisik, misalnya santet atau guna-guna.
Itu karena rangkaian pemeriksaan secara medis tidak menemukan sebab yang jelas atau pengobatan-pengobatan yang dijalaninya seakan tidak memberikan efek yang berarti.
Beberapa hasil penelitian dari pasien yang datang ke klinik-klinik kesehatan menunjukkan bahwa jumlah pasien dengan gangguan psikosomatik mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.
Bahkan dikatakan bahwa sekitar 80% dari pasien yang datang adalah mereka yang mengalami gangguan psikosomatik.
Diperkirakan jumlah ini mungkin saja akan terus mengalami peningkatan seiring dengan semakin kompleksnya persoalan dalam kehidupan yang menimbulkan tekanan-tekanan mental dalam diri seseorang.
Stress Sebagai Pemicu
Meskipun secara definisi istilah stress itu berbeda dengan pemahaman kebanyakan kita selama ini, tetapi dalam tulisan ini yang dimaksud dengan stress adalah suatu kondisi dimana tubuh kita sudah tidak mampu lagi menghadapi sumber stress (stressor) dan berada dalam kondisi distress.
Kondisi inilah yang biasanya dialami oleh mereka dengan gangguan psikosomatik saat mereka berobat ke dokter (pengobatan lain) dengan keluhan dan gejala-gejalanya.
Bagaimana stress bisa menimbulkan gangguan/masalah fisik ?
Ketika kita sedang mengalami emosi-emosi negatif, misalnya cemas, marah,takut, gelisah, maka kita sebenarnya tengah dilanda stress.
Pikiran bawah sadar kita akan menterjemahkan ini sebagai adanya ancaman dan harus mempersiapkan diri menghadapinya.
Ancaman itu mungkin memang ancaman dalam bentuk nyata atau hanya ancaman secara psikologis.
Dan yang perlu kita ketahui adalah pikiran kita tidak bisa membedakannya. Meskipun ancaman yang kita hadapi hanyalah ancaman psikologis, tubuh akan bereaksi sama seperti terhadap ancaman dalam bentuk nyata.
Stress mempersiapkan tubuh kita untuk menghadapi ancaman dengan mempersiapkan energi ekstra bagi kita.
Saat ancaman itu merupakan ancaman yang real maka stress mendorong kita untuk melakukan usaha yang maksimum guna mempertahankan diri.
Tetapi saat ancaman itu hanyalah ancaman secara psikologis dan tubuh kita tidak menggunakan energi ekstra yang telah dipersiapkan, energinya tidak terpakai dan menumpuk, ini dapat menimbulkan masalah.
Apa jadinya jika kita terlalu sering mengalami emosi-emosi negatif?
Apa jadinya jika kita membiarkan diri kita berlama-lama menyimpan emosi-emosi negatif dalam pikiran kita?
Bagaimana jika kita, tanpa kita sadari, masih menyimpan emosi-emosi negatif dari masa lalu kita yang belum terselesaikan?
Ya, kita akan didera derita gangguan-gangguan psikosomatik.
Penanganan Secara Holistik
Berdasar definisi WHO tahun 1994 bahwa konsep sehat adalah sehat secara fisik, psikologis, sosial, dan spiritual.
Penanganan terhadap gangguan kesehatan, terutama gangguan-gangguan psikosomatik, semestinya juga dilakukan secara holistik yang tidak hanya menangani gejala-gejala fisiknya saja tetapi juga memperhatikan faktor-faktor psikis.
Bagi anda yang mengalami gejala-gejala gangguan psikosomatik, anda dapat melakukan analisa awal terhadap diri anda sendiri untuk dapat mengetahui apa yang mungkin menjadi faktor pemicu dari keluhan-keluhan yang anda derita.
Pertama, cobalah kenali gejala-gejala yang ada dan hal-hal apa yang menimbulkan gejala-gejala tersebut, misalnya gejala muncul setiap kali anda merasa tertekan, marah, atau perasaan lainnya.
Kedua, Konsultasikan dengan dokter atau tenaga medis professional untuk mengetahui ada tidaknya masalah-masalah pada tubuh anda ditinjau secara medik. Tanyakan pada dokter anda kemungkinan anda menderita gangguan psikosomatik.
Ketiga, Jika memang ada kemungkinan anda mengalami gangguan psikosomatik, maka selesaikanlah masalah-masalah emosional yang mungkin bersemayam dalam diri anda.
Anda bisa berkonsultasi dengan psikolog/psikiater, ataupun dengan bantuan hipnoterapi yang terbukti sangat ampuh menangani persoalan yang terkait dengan pikiran.






















