Flexing adalah istilah pamer, namanya pamer bukannya hanya soal kekayaan saja. Hakekat pamer itu sendiri luas termasuk salah satunya pamer fisik, wajah dan tubuh seksi.
Pamer wajah tampan, cantik dan pamer tubuh seksi di media sosial akan berdampak negatif.
Dampak negatif dari orang yang doyan pamer wajah di sosial media berasal dari kurangnya rasa percaya diri, sehingga mereka perlu Peng-Aku-an dari orang lain.
Peng-Aku-an dan Ke-Aku-an merupakan Ego yang menjadikan orang angkuh dan sombong.
Dan sombong adalah salah satu dari penyakit hati yang sangat berbahaya bagi manusia
Ego dan Sombong akan membentuk Ke-Akuan diri. Dan Keakuan diri sangat berdampak ke hal agreasifitas, daya kompetisi, keserakahan, sifat manipulatif, dan rasa kepemilikan.
Oleh sebab itu, Keakuan itu bersifat merusak, bukan kasih sayang yang memelihara.
Keakuan itu bukan cinta, di sana tidak terdapat kearifan dan keseimbangan.
Ketika pikiran mengenali suatu objek sebagai hiburan atau pelepasan, artinya batin orang tersebut berada di dalam konflik. Konflik terjadi karena merasa Ke-akuan
Jadi orang yang doyan dengan flexing sebenarnya adalah orang yang berkonflik dengan dirinya sendiri.
Sebab ego menjadikannya sombong, dan sombong menjadikannya rasa kepemilikan yakni ingin mendapatkan Peng-Aku-an dan rasa Ke-Aku-an.
Selain itu, pamer secara berlebihan juga bisa menjadi tanda-tanda gangguan kesehatan mental atau gangguan kepribadian tertentu, seperti:
1) Histrionic Personality Disorder yang ditandai dengan ketidakstabilan emosi dan kecenderungan untuk mencari perhatian.
2) Borderline Personality Disorder yang membuat penderita sulit untuk mengontrol perilaku serta suasana hatinya, dan memiliki kecenderungan untuk mencari perhatian serta validasi dari orang lain.
3) Gangguan bipolar yang membuat seseorang mengalami perubahan suasana hati secara tiba-tiba.
4) Narcissistic Personality Disorder yang membuat penderita merasa dirinya lebih hebat atau lebih penting daripada orang lain .
5) Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang membuat penderita sulit untuk memusatkan perhatian.
6) Oppositional Defiant Disorder yang membuat penderita mudah marah dan tersinggung.
7) Intermittent Explosive Disorder yang membuat seseorang sulit untuk mengontrol amarahnya sehingga cenderung melakukan tindakan yang kasar.
Beberapa gangguan kesehatan mental tersebut perlu diwaspadai karena bisa menjadi semakin parah dan akan berpengaruh terhadap perilaku seseorang ketika tidak ditangani secara medis.
A) Dampak Flexing bagi Kesehatan Mental
Bangga terhadap diri sendiri adalah perasaan yang wajar muncul sebagai bentuk apresiasi terhadap pencapaian atau prestasi yang dimiliki.
Namun, flexing secara berlebihan dengan asumsi bahwa diri sendiri lebih hebat jika dibandingkan dengan orang lain bisa berdampak negatif terhadap kesehatan mental
Media sosial bisa membahayakan jika ditujukan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain secara terus-menerus dengan cara flexing.
Pasalnya, flexing mengharuskan seseorang memamerkan kelebihan di media sosial demi perhatian dari orang lain.
Akibatnya, mereka merasa perlu untuk diakui orang lain terkait apapun yang kamu miliki dalam hidupnya.
Apabila aksi flexing tidak sesuai harapan, mungkin mereka akan merasa stres, tidak bahagia, dan bahkan depresi
Flexing juga dapat memicu stres dan cemas, sebab mereka merasa dituntut untuk memberi tahu orang lain tentang pencapaian atau kekayaanmu.
Selain itu, mereka merasa selalu harus sempurna di depan orang lain karena berkaitan dengan ketenaran di sosial.
Jika tidak sempurna, mereka akan merasa cemas terhadap komentar orang lain yang tidak mengenakkan.
B) Flexing Celah Kriminal
Flexing selain berdampak buruk bagi hati, mental dan kesehatan. Flexing juga berdampak pada kejahatan bagi orang yang doyan pamer serta memudahkan polisi untuk mencari apabila terlibat kriminalisasi.
Misalnya : Kamu doyan flexing di akun sosial seperti facebook. Foto-foto kamu otomatis terpajang banyak di album facebook kamu.
Suatu ketika kamu terkena masalah, misalnya kamu memukul atau menganiaya orang lain atau kejahatan seperti menghina agama orang lain, dan masih banyak lagi.
Kamu kemudian dilaporkan ke polisi, lalu kamu kabur dan menjadi DPO atau buronan polisi.
Polisi yang mengetahui nama kamu, dia akan mencari foto-foto di Facebook kamu.
Kemudian foto kamu dijadikan Daftar Pencarian Orang (DPO) lalu foto kamu disebar di sosial media.
Wartawan dan media pun mensearching facebook kamu dan foto kamu diambil sebagai bahan untuk cover berita DPO. Begitu pun dengan netizen, merka akan mencarimu.
Karena kamu doyan flexing maka polisi mudah mengenalimu, wartawan mudah memajang fotomu di media. Dari contoh inilah kamu sendiri bisa memikirkan dan menyimpulkannya dampak dari doyan pamer fisik.
C) Flexing Tubuh Seksi Membuat Orang Lain Berfantasi Liar
Flexing tubuh seksi juga berdampak buruk selain menjadi dosa jariyah akan berdampak hilangnya cahaya di wajah serta berdampak kejahatan. Dan bagi para lelaki hidung belang akan sangat menyukai hal ini.
Bayangkan saja kamu berpose seksi, foto foto kamu menjadi santapan lelaki dalam memuaskan fantasi liar mereka.
Mereka membayangkan foto seksimu lalu berimajjnasi seksual. Maka pengaruhnya kamu telah menebar dosa bagi lelaki yang awalnya tak ada niat berfantasi itu.
Akibatnya kamu menjadi incaran dan dinilai wanita murahan alias bispak (bisa pakai). Tak ayal jika lelaki berkomentar miring sebab yang buat adalah dirimu sendiri.
Ketika kamu telah meninggal dunia sementara foto foto seksimu masih tersimpan di album sosial mediamu maka selama itu akan menjadi dosa jariyah yang dinikmati semua orang.
Oleh sebab itu, mulai sekarang setop flexing berlebihan. Jika ingin flexing sebaiknya flexing soal bisnis saja dan motivasi. Hal itu memberikan kebaikan bagi kita dan orang lain.






















