Hati menjadi sakit dan menderita karena pada dasarnya pada hati itu masih tersimpan perasaan marah, dendam, kecewa, dan beragam emosi negatif.
Kondisi ini menyebabkan seseorang akan sulit untuk memaafkan. Rasa benci yang mendalam akan membuat seseorang sulit untuk move on; sulit untuk berkembang. Akhirnya yang menderita sebenarnya adalah diri sendiri.
Jalan keluarnya adalah memaafkan. Namun seringkali seseorang sulit untuk memaafkan karena merasa tidak bisa menerima perlakuan orang yang dibencinya.
Ia mengira bahwa memaafkan berarti menyetujui perbuatan yang telah dilakukan orang tersebut kepadanya. Padahal memaafkan adalah tentang melepaskan berbagai perasaan negatif yang mengendap begitu dalam di hati.
Penelitian menunjukkan bahwa memaafkan orang lain lebih meningkatkan kesehatan daripada dimaafkan.
Juga memaafkan orang lain tanpa syarat berkaitan lebih erat dengan kesejahteraan daripada memaafkan orang lain yang mendapatkannya melalui penyesalan dan permohonan maaf.
Memaafkan bahkan meredakan depresi, meningkatkan suasana hati positif, mengurangi kemarahan, mengurangi hormon stres, dan menjaga hubungan dekat bisa lestari pada pasangan.
Kita harus belajar untuk merelakan apa yang telah terjadi. Merelakan untuk melepaskan semua perasaan sakit yang dirasa.
Karena hanya dengan begitu, kita bisa bahagia dalam perjalanan hidup kita selanjutnya. Kita bisa merasa damai.
Tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu penuh luka yang menghantui pikiran kita.
Relakan masa lalu itu hanya sebagai stasiun kehidupan yang telah lama berlalu. Karena hidup adalah perjalanan menuju kebahagiaan sejati.






















