Salah satu mashab psikologi yang teori-teorinya masih dipraktekkan hingga saat ini adalah behaviorsime.
Teori belajar yang kebanyakan dipraktekkan di sekolah-sekolah, bahkan bagaimana mengubah perilaku karyawan, sesungguhnya dilandaskan pada pemahaman behavioris.
Ada dua hal penting yang mesti diketahui dalam melakukan suatu perubahan: Stimulus dan Respon.
Stimulus diartikan sebagai suatu hal yang merangsang terjadinya respon (reaksi).
Semua stimulus harus yang dapat diindrai oleh panca indra.
Oleh sebab itu, stimulus seringkali berupa rangsangan yang datang dari lingkungan yang dapat melahirkan reaksi sehingga terjadi perubahan perilaku.
Sedangkan respon diartikan sebagai reaksi terhadap suatu stimulus yang diterima.
Reaksi dari suatu stimulus yang diterima oleh panca indra biasanya berbentuk suatu perilaku.
Saat ada stimulus, maka akan ada respon; dengan demikian jika ingin mengubah suatu perilaku, maka cukup meng-kondisikan suatu lingkungan (stimulus) sehingga memunculkan suatu respon (perubahan perilaku).
Apa yang terjadi antara stimulus dan respon tidak menjadi pembahasan utama bagi mashab ini, karena tak dapat diukur secara indrawi.
Kaum behavioris hanya berfokus pada segala sesuatu yang dapat diindrai, dan karena itulah perlu dilakukan pengkondisian stimulus agar melahirkan respon tertentu.
Agar kita rajin membaca, maka kita perlu ditempatkan dalam lingkungan yang terkondisikan (stimulus) sehingga melahirkan suatu respon berupa perilaku rajin membaca. Dengan mengubah stimulus, maka respon pun akan berubah.
Namun pada kenyataannya tidak selalu demikian. Kita memang perlu mengkondisikan suatu lingkungan yang kondusif sehingga terjadi respon yang diharapkan.
Namun semata-mata terpaku pada pengkondisian lingkungan seolah-olah menempatkan manusia ibarat sebuah mesin yang hanya dapat diutak-atik dengan mengubah stimulusnya. Inilah yang kemudian menjadi kelemahan besar dari mashab ini.
Apa yang terjadi di dalam proses mental kita sehingga memunculkan respon, seperti yang kami sampaikan di atas, tak menjadi perhatian kaum behavioris karena tak dapat diindrai dan diukur.
Itulah sebabnya, apa yang terjadi antara stimulus dan respon menjadi suatu kotak hitam yang tak bisa dijamah. Maka atas dasar kelemahan itulah, lahirlah mashab baru yang menjadikan pikiran sebagai topik utama mereka, mashab psikologi kognitif.
Kotak hitam yang tak bisa diukur menurut kaum behavioris karena merupakan proses-proses tak sadar, menjadi kotak yang sudah bisa dijelaskan. Pikiran mulai disamakan dengan fungsi-fungsi kerja komputer.
Seperti layaknya komputer, pada pikiran juga ada memori yang bekerja berdasarkan persepsi kita. Pada psikologi kognitif inilah muncul kata “PILIHAN” terhadap respon yang akan kita berikan saat mendapatkan stimulus.
Manusia bebas berkehendak dan memilih apapun demi kebahagiaan dirinya, tanpa harus merasa tak berdaya dengan berbagai stimulus yang ada.
Selain itu, ada satu aspek pada manusia yang paling sering dilupakan dan paling sering tak dibahas, yaitu emosi. Dr. Antonio Damasio menemukan bahwa justru tanpa emosi, kita sebagai manusia tak dapat membuat keputusan dan mengambil tindakan yang sesuai.
Mengapa demikian? Karena setiap stimulus yang kita terima akan direspon terlebih dahulu oleh emosi kita yang ditandai dengan adanya perubahan, walau mungkin samar terasa, pada fisiologis tubuh kita.
Stimulus berupa situasi yang membahayakan akan direspon oleh emosi kita dengan membuat perubahan pada organ tubuh (perut terasa mual), keringat dingin mulai bercucuran, dan respon tubuh yang terasa agak lemas.
Hubungan antara tanggapan fisiologis dan fisik inilah yang mendorong munculnya tindakan dan pemikiran kita. Atau dengan kata lain, perasaan yang kita rasakan menentukan kognitif dan reaksi yang akan kita berikan terhadap suatu stimulus.
Seseorang yang sangat menyukai sepak bola, saat stimulus berupa alarm jam berbunyi yang mengisyaratkan bahwa ia harus bangun pagi ke kantor, respon yang diberikan selalu rasa malas dan akhirnya terlambat bangun dan sudah pasti terlambat ke kantor.
Mengapa? Karena kantor (mungkin) bagi dia tak menyenangkan. Kantor telah menjadi stimulus yang melahirkan respon emosi tak suka terhadap kantor dan akhirnya memicu tindakan dan pemikirannya untuk lambat bergerak bangun pagi dan lambat bergerak menuju ke kantor.
Akan tetapi saat laga clasico antara Barcelona dan Real Madrid, maka sepertinya tanpa alarm jam pun ia akan langsung terbangun dengan sendirinya dan dengan sigap cuci muka dan berada di depan TV. Emosinya telah menentukan tindakan dan pemikirannya.
Penulis : Syahril Syam, ST, C.Ht, L.NLP Pakar Pengembangan Diri






















