“Akal adalah panduan bagi tabiat. Dimana akal harus menjadi raja dan membimbing berbagai tabiat-tabiat manusia.”
“Akal adalah raja, sedangkan tabiat adalah rakyatnya. Jika akal lemah untuk mengatur tabiat itu, maka akan timbul kecacatan padanya.”
Jika kita tidak dapat berpikir melampaui apa yang kita rasakan secara emosional, maka kita hidup sesuai dengan apa yang didikte lingkungan terhadap tubuh kita.
Alih-alih benar-benar berpikir, berinovasi, dan mencipta, kita hanya menyalakan ingatan sinaptik di area lain otak kita dari masa lalu genetik atau pribadi kita
Kita memicu reaksi kimia berulang yang sama yang membuat kita hidup dalam mode bertahan hidup (menjalani kelangsungan hidup yang penuh stres dan melahirkan perasaan yang penuh kegelisahan, kecemasan, kemarahan, penuh tekanan, dan depresi).
Oleh sebab itu, agar tidak hidup dengan sekadar mengikuti insting hewani kita (tubuh otomatis/tabiat) yang penuh stres, maka kita mesti menjalani hidup dengan menjadi manusia dengan cara mengaktifkan otak lobus frontal yang merupakan pusat kekuasaan manusia. Atau dalam bahasa filsafat, mengaktifkan akal kita.
Bagaimana caranya?
Dalam penelitian terbaru, para ilmuwan telah menunjukkan bahwa otak memproses sekitar 400 miliar bit informasi setiap detik.
Namun, biasanya, kita hanya menyadari sekitar 2.000 bit data tersebut.
Dari 2.000 bit itu, pada kebanyakan orang, input yang diproses otak hanya berkaitan dengan kesadarannya akan tubuh, kesadarannya akan lingkungan, dan kesadarannya akan waktu.
Dengan kata lain, pikiran dan perhatiannya sehari-hari adalah tentang kenyamanan tubuhnya, tentang bagaimana “perasaan”nya. Perhatiannya akan lingkungan dan waktu hanya dalam hal bagaimana mereka mempengaruhi tubuhnya.
Saat seseorang mestinya fokus pada pekerjaan ataupun sesuatu hal yang mesti dilakukan (bisa berupa belajar, diskusi dengan teman, merawat anak, atau apapun yang menuntut untuk fokus), maka seringkali pikirannya melayang ke: “Apakah saya capek?”
“Apakah saya lapar?”, “Apakah saya senang?”, “Apakah pinggang saya sakit?”, “Apakah orang ini menyenangkan atau tidak?”,
“Berapa lama tugas ini mesti diselesaikan?”, “Kapan honor saya cair?”, “Sudah saatnya makan siang”,
“Apakah sudah waktunya pulang kantor?”, dan berbagai hal yang semuanya hanya fokus pada bagaimana menyenangkan tubuh dan perasaan.
Inilah mengapa seseorang menjadi begitu egois ketika mengalami suatu masalah, karena ia senantiasa berharap semua orang dan segala hal harus memperhatikan derita tubuh dan perasaan sakit yang dirasakannya; harus memperhatikan hal-hal yang membuatnya merasa senang dan diperhatikan.
Tanpa keterlibatan langsung dari lobus frontal, pikirannya sehari-hari terutama menyangkut kelangsungan hidup tubuh yang penuh stres dan hanya tentang kenyamanan perasaannya.
Ia menghabiskan sebagian besar hari hanya untuk mengantisipasi dan menanggapi rangsangan eksternal yang diterima indra dari lingkungan dan, sebagai hasilnya, semua lobus lain dari otak sibuk berpikir.
Kesibukan ini pada akhirnya menyebabkan otak tetap sibuk mencoba memprediksi momen selanjutnya. Dengan kata lain, tanpa keterlibatan lobus frontal, kebanyakan manusia menghabiskan banyak waktu hanya berfokus pada peristiwa masa depan berdasarkan ingatan masa lalu.
Kebanyakan orang, sebagian besar waktu, tidak mengarahkan lobus frontal mereka untuk memegang kendali. Mereka hanya menjalani hidup dengan terjebak oleh kenyamanan tubuh dan tenggelam ke dalam lautan perasaannya.
Lobus frontal adalah raja yang dapat bertindak sebagai penjaga kota dan sistem pemerintahan, membiarkan jenis informasi tertentu dan menyajikannya di depan dan di tengah. Atau, ia dapat mengesampingkan masukan lain dan menanganinya nanti, atau tidak sama sekali.
Kesadaran kita ditentukan oleh apa yang kita pilih untuk disetel dan apa pun yang dapat kita pelajari sebagai pengetahuan baru. Namun, ada perbedaan besar antara otak yang hanya memproses informasi dan kesadaran kita akan informasi itu.
Meskipun otak memproses 400 miliar bit data setiap detik, lobus frontal memungkinkan kita untuk secara aktif memilih data apa yang kita pilih untuk menempatkan kesadaran kita.
Dengan kata lain ketika kita membiarkan diri kita terjebak oleh kenyamanan tubuh, maka kesadaran kita sehari-hari hanya terkait stres, kegelisahan, kemarahan, sakit hati, kecemasan, pesimis, dan depresi.
Namun, kita bisa secara sadar menggunakan kehendak bebas kita untuk memilih apa yang mesti difokuskan dan menjadi kesadaran kita. Alih-alih hanyut dalam ketidakbahagiaan, kita bisa secara sadar memfokuskan diri kita pada hal-hal yang bisa membuat kita bahagia.
Dan karena hidup dengan mode bertahan hidup yang senantiasa terjebak ke dalam kenyamanan tubuh, seringkali membuat kita tidak bahagia, maka di sinilah pentingnya kita secara sadar menggunakan kehendak bebas kita untuk mengontrol semua dorongan-dorongan yang hadir secara otomatis.
Kita mesti sadar untuk secara selektif menyadari mana yang mesti kita rasakan dan kerjakan. Seorang ulama mengemukakan definisi kehendak bebas, “Pengontrolan semua tendensi psikologis (ketakutan, kebencian, kesenangan, dan sebagainya) secara rasional.
Dengan kata lain, “kehendak adalah salah satu kekuatan yang menguasai semua tendensi dan kontra-tendensi dalam diri manusia.
Tugasnya adalah mencegah manusia untuk tidak diarahkan oleh tendensi atau lawannya ke arah tertentu.” Itulah sebabnya seringkali kehendak “bertentangan” dengan berbagai dorongan-dorongan diri yang muncul.
Inilah cara menjadi manusia, yang benar-benar menggunakan akalnya (menggunakan lobus frontal) untuk secara sadar dan selektif menyadari hal-hal yang memang seharusnya untuk disadari, dirasakan, dan dikerjakan; yang sesuai dengan nilai-nilai yang benar dan baik.
Dan tidak membiarkan kesadaran dirinya diombang-ambingkan oleh kenyamanan tubuh, oleh egoisme diri, atau dalam bahasa agama, oleh hawa nafsu.
Ibarat layar monitor, hal apakah yang akan kita tampilkan di layar monitor kesadaran kita?
Apakah tentang sakit hati?
Apakah tentang stres yang rutin?
Apakah tentang dendam?
Apakah tentang kesombongan?
Apakah tentang egois?
Apakah tentang kesenangan duniawi?
Ataukah tentang nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan yang merupakan nilai kemuliaan bagi manusia?
Karena neurosains menunjukkan kepada kita bahwa sebagai manusia, kita memiliki hak istimewa untuk memilih di mana harus menaruh perhatian kita, dan untuk berapa lama.
Dimana kita dapat belajar hanya jika kita secara selektif menempatkan kesadaran kita pada input dan informasi yang kita pilih, berdasarkan kehendak bebas kita.
Dan semuanya dimulai dengan niat. Karena lobus frontal adalah bagian otak yang memutuskan tindakan, mengatur perilaku, merencanakan masa depan, dan bertanggung jawab atas niat yang kuat.
Dengan kata lain, ketika kita benar-benar memiliki tujuan dan kita telah membuat pilihan sadar (mengambil keputusan) untuk bertindak dengan cara yang benar dan baik, kita mengaktifkan lobus frontal; bagian otak yang tepat berada di belakang dahi kita.
Penulis : Syahril Syam, ST, C.Ht, L.NLP Pakar Pengembangan Diri






















