Perhatikan setetes air.
Ia mengalir dari selokan kecil menuju saluran yang lebih besar. Dalam perjalanan itu, air yang semula jernih bercampur dengan lumpur dan berbagai kotoran. Sekilas, air itu tampak telah berubah.
Lalu ia masuk ke sungai.
Kotoran yang tadi begitu jelas perlahan menghilang di antara derasnya aliran. Air tetap membawa apa yang ada di dalamnya, tetapi mata kita tidak lagi mampu membedakannya. Yang berubah adalah apa yang terlihat.
Sungai kemudian menerima limbah rumah tangga dan industri. Air menjadi keruh, bahkan berbau. Kita pun menyebutnya air yang tercemar.
Namun perjalanan belum berakhir.
Semua sungai akhirnya bermuara ke laut. Air yang keruh dan berbau bercampur dengan samudra yang begitu luas hingga bau dan warnanya seolah lenyap.
Apakah airnya hilang?
Tidak.
Ia hanya berada dalam keadaan yang berbeda.
Matahari kemudian memanaskan permukaan laut.
Sebagian air menguap, berubah menjadi gas yang tak lagi tampak sebagai cairan. Uap itu naik ke langit, berkumpul menjadi awan putih. Ketika jumlahnya semakin besar, awan berubah menjadi kelabu, lalu hitam.
Tak lama kemudian, hujan turun.
Gas kembali menjadi air.
Siklus itu terus berlangsung tanpa henti.
Yang Berubah Hanyalah Wujudnya
Jika hanya melihat permukaannya, kita akan berkata bahwa air terus berubah.
Kadang jernih.
Kadang keruh.
Kadang berbau.
Kadang menjadi uap.
Kadang menjadi awan.
Kadang turun sebagai hujan.
Namun, apakah hakikat air benar-benar berubah?
Tidak.
Yang berubah hanyalah bentuk, kondisi, dan tempat keberadaannya.
Esensinya tetap sama.
Belajar Melihat Lebih Dalam
Begitu pula kehidupan.
Pendapat manusia berubah.
Keyakinan bergeser.
Cara pandang berkembang.
Keadaan silih berganti mengikuti ruang dan waktu.
Jika hanya melihat permukaannya, segala sesuatu tampak tidak pernah tetap.
Tetapi ketika mampu melihat lebih dalam, kita akan menemukan bahwa di balik segala perubahan terdapat sesuatu yang tetap.
Prinsip.
Hukum.
Esensi.
Inilah yang oleh banyak filsuf disebut sebagai kebenaran hakiki.
Kebenaran semacam ini tidak bergantung pada opini, mayoritas, tempat, ataupun zaman.
Ia tidak berubah hanya karena cara manusia memandangnya berubah.
Kebenaran Tidak Pernah Bias
Yang sering kali bias bukanlah kebenaran.
Melainkan cara manusia memandangnya.
Pandangan kita dipengaruhi pengalaman, emosi, kepentingan, pengetahuan, bahkan lingkungan tempat kita hidup. Karena itu, sesuatu yang tampak benar hari ini bisa terlihat berbeda ketika sudut pandangnya berubah.
Namun perubahan sudut pandang tidak otomatis mengubah hakikat.
Seperti air yang tetap menjadi air meskipun mengalir di selokan, memenuhi sungai, membentang di lautan, menguap menjadi awan, lalu kembali turun sebagai hujan.
Wujudnya berubah.
Keadaannya berubah.
Tempatnya berubah.
Tetapi esensinya tetap.
Begitu pula kebenaran hakiki.
Ia tidak pernah menjadi bias. Manusialah yang sering kali hanya berhenti melihat permukaannya.
(IA)






















