Saat kita memikirkan betapa nikmatnya es teh manis dan merasakannya dengan pikiran, maka tubuh akan meresponnya.
Jika perasaan itu terasa sangat nyata bahwa kita memang sedang menikmati es teh manis, maka otomatis tubuh akan merespon.
Jadi apa yang kita rasakan tersebut dengan benar-benar membuat lidah kita merasakan manisnya es teh manis tersebut.
Sebaliknya, bila menyimpan amarah yang terpendam, maka amarah tersebut akan direspon tubuh.
Dengan demikian, amarah itu akan membuat seseorang merasakan getaran hebat pada tubuhnya.
Jika dipendam terlalu dalam, seringkali menyebabkan demam dan akhirnya sakit.
Begitu pula saat seseorang merasa seperti, “Tidak enak perasaan, rasanya maagku sakit, tidak enak sekali rasanya ini…dan bla…bla….”
Meski sesaat atau pun “dalam” hal yang dirasakan itu maka tubuh pun akan benar-benar sakit.
Jika perasaan tersebut diulangi dan diulangi lagi maka intensitasnya semakin menguat, tubuh pun akan benar-benar semakin meresponnya dan menjadikan sakit dua kali lipat.
Perasaan malu, rasa bersalah, apati, kesedihan, takut, dan marah adalah perasaan-perasaan yang membuat tubuh cenderung mudah sakit. Ya, karena tubuh memang mematuhi perasaan.
Sebaliknya, perasaan cinta, kasih sayang, sabar, ikhlas, bahagia dan memaafkan akan membuat tubuh justru mudah menyembuhkan penyakit yang dialami dan membuat kita menjadi lebih sehat dan berenergi.
Semua sel tubuh kita akan selalu selaras dengan apa yang kita rasakan. Dengan mengubah perasaan, kita sesungguhnya mengubah keadaan jiwa dan tubuh kita.
Masihkah anda hobi “merasa”? Jika masih “merasa” maka merasalah yang baik-baik saja agar tubuh senantiasa sehat.
Penulis : Syahril Syam, ST, C.Ht, L.NLP Pakar Pengembangan Diri






















