Alfred Korzybski pernah mengeluarkan sebuah diktum: “The map is not the territory” (peta bukanlah wilayah).
Diktum tersebut ingin menggambarkan kepada kita bahwa keyakinan kita tidaklah sama dengan realitas.
Maksud dari ini adalah bahwa setiap sikap dan perbuatan kita selalu dilandasi atas persepsi kita atas kehidupan ini.
Saat kita mempersepsikan seseorang sebagai orang yang baik ataupun orang yang buruk, maka sikap dan perbuatan kita terhadapnya akan selalu bergantung pada persepsi kita tersebut.
Menjalani kehidupan ini pun demikian. Merasa stres ataupun merasa bahagia, sebenarnya bergantung pada cara persepsi kita terhadap kehidupan ini.
Apa yang kita persepsikan atas kehidupan ini, menentukan respons kita dalam menjalani kehidupan.
Oleh sebab itu, sudah semestinya kita memiliki mindset yang benar atas kehidupan ini. Karena dengan landasan itulah, kita bisa tetap sabar dan ikhlas menjalani kehidupan dengan beragam masalah dan tantangannya.
Secara umum ada dua jenis mindset yang dimiliki oleh manusia dalam memandang kehidupan, yaitu sebagai penilai atau yang dinilai.
Bagi yang memiliki mindset penilai, maka ia akan senantiasa menilai kehidupan ini sesuai dengan parameternya. Baik dan buruk bergantung pada indikator penilaiannya sendiri, bergantung pada kepentingannya.
Dan inilah sesungguhnya penyebab stres kronis yang berkesinambungan. Karena ia bertindak seolah-olah sebagai manajer alam semesta, sedangkan disaat yang sama, ia bukanlah pengendali segalanya di kehidupan ini.
Mindset yang kedua adalah merasa sebagai manusia yang senantiasa dinilai. Dan karenanya, baik dan buruk adalah sesuai paramater Sang Penilai.
Alih-alih menjadi pengendali kehidupan, pemilik mindset ini selalu memandang kehidupan sebagai kesempatan untuk terus meningkatkan nilai diri.
Kehidupan adalah kesempatan untuk bisa melakukan perbaikan diri agar nilai diri terus meningkat.
Jiia kita memiliki mindset ini, maka kita akan berusaha menjaga sikap, perbuatan, dan hati kita.
Alih-alih stres, kita justru akan berusaha merasa sabar saat kesulitan, dan berusaha merasa bersyukur disaat bahagia.
Kehidupan ini adalah kesempatan menggunakan sarana terbaik untuk semakin menyempurnakan diri kita.
Penulis : Syahril Syam, ST, C.Ht, L.NLP Pakar Pengembangan Diri






















