Mewaspadai Kerasukan Diri

Rabu, 13 Desember 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mewaspadai Kerasukan Diri

Mewaspadai Kerasukan Diri

Pikiran adalah bahasa otak, perasaan adalah bahasa tubuh. Setiap kali kita memiliki pikiran, selain membuat neurotransmitter, otak kita juga membuat bahan kimia lain – protein kecil yang disebut neuropeptida yang mengirimkan pesan ke tubuh kita.

Tubuh kita kemudian bereaksi dengan memiliki perasaan. Otak memperhatikan bahwa tubuh memiliki perasaan, sehingga otak menghasilkan pikiran lain yang sama persis dengan perasaan itu yang akan menghasilkan lebih banyak pesan kimia yang sama yang  memungkinkan kita berpikir seperti yang baru saja kita rasakan.

Jadi setiap kali kita menyalakan pikiran di otak kita, kita membuat bahan kimia, yang menghasilkan perasaan dan reaksi lain dalam tubuh. Tubuh kita tumbuh terbiasa dengan tingkat bahan kimia yang mengalir melalui aliran darah kita, mengelilingi sel-sel kita, dan membasahi otak kita.

Jika seseorang memiliki pikiran kebencian, marah, perasaan bersalah, malu, harga diri yang rendah, dendam, kecewa, sakit hati, atau mencela diri sendiri, otak juga memproduksi bahan kimia yang disebut neuropeptida yang ditanggapi oleh tubuh dengan cara yang sebanding. Ia merasa benci, marah, sakit hati, kecewa, dan tidak layak.

BACA JUGA :  Pola Pikir yang Membuat Seseorang Sulit Berkembang

Berpikir menciptakan perasaan, dan kemudian perasaan menciptakan pemikiran yang setara dengan perasaan itu. Ini adalah siklus berpikir dan merasa, merasa dan berpikir (proses ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun melalui sikap dan perilaku yang berulang).

Dan karena otak bertindak berdasarkan perasaan tubuh dengan menghasilkan pikiran yang sama yang akan menghasilkan emosi yang sama, menjadi jelas bahwa pikiran yang berlebihan mengikat otak kita ke dalam pola sirkuit saraf yang tetap.

Setiap gangguan pada tingkat susunan kimiawi tubuh yang teratur, konsisten, dan nyaman akan mengakibatkan ketidaknyamanan.

Seseorang akan melakukan hampir semua yang ia bisa, baik secara sadar maupun tidak sadar, berdasarkan apa yang ia rasakan, untuk memulihkan keseimbangan kimiawi yang sudah ia kenal.

Maka ketika seseorang terbiasa marah, benci, merasa bersalah, malu, harga diri yang rendah, dendam, kecewa, sakit hati, atau mencela diri sendiri, ia pun akan selalu terdorong untuk mengulangi kembali merasakan perasaan-perasaan tersebut.

Akhirnya ia pun akan selalu bertemu dengan orang, benda, tempat, waktu, atau peristiwa yang akan memicunya merasakan perasaan destruktifnya kembali.

BACA JUGA :  Mental Block Terbesar dalam Hidup

Dan apabila tidak ada suatu stimulus yang bisa memicu kembali perasaan destruktif itu, maka agar membuat tubuh memproduksi zat kimia yang diinginkan, otak mengaktifkan sirkuit terkaitnya, yaitu jaring saraf yang berisi memori masa lalu dari sebuah pengalaman yang menghasilkan marah, benci, merasa bersalah, malu, harga diri yang rendah, dendam, kecewa, atau sakit hati. Inilah yang disebut kecanduan emosional.

Proses ini biasanya terjadi selama beberapa dekade, dimana tubuh menjadi pikiran tentang marah, malu, kecewa, dendam, tak berharga, atau sakit hati.

Semua pikiran tentang emosi destruktif ini tak lagi tersimpan di pikiran sadar di otak, tetapi tersimpan sebagai energi di dalam tubuh, dimana 95% – 99% bersifat bawah sadar.

Dan karena itu tidak sadar, maka seseorang tanpa sadar akan terus bersikap dan berperilaku dengan respons emosional marah, kecewa, dendam, tak berharga, malu, atau sakit hati.

Energi yang tersimpan di tubuh ini menghasikan efek biologis yang terkait. Bisa berupa sakit kepala akut, bagian tubuh yang terasa sangat sakit, mengalami asam lambung berlebih, gangguan sistem pencernaan, masalah ginjal, atau melemahnya sistem imun.

BACA JUGA :  Sugesti Hipnosis untuk Awet Muda

Biasanya setelah melewati waktu bertahun-tahun, perasaan destruktif ini akan meledak keluar. Disebut dengan abreaksi (abreaction) dimana muatan emosi dari pikiran bawah sadar meluap atau meledak keluar dalam bentuk ucapan atau perilaku tertentu.

Bisa berupa menangis, berteriak, memukul, meninju, meremas, mengeram, mencakar, hingga menendang. Inilah yang oleh kebanyakan orang disebut kerasukan.

Ada juga abreaksi yang hanya berupa menangis perlahan. Pada beberapa orang dewasa atau lansia bisa berupa meluapnya kemarahan tanpa sebab yang rutin terjadi.

Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk melepaskan keegoisan diri; melepaskan keakuan diri; melepaskan berbagai kengototan hidup.

Karena dengan begitu, kita bisa hidup dengan emosi yang sehat. Kita bisa hidup dengan merespons orang, benda, tempat, waktu, dan peristiwa secara lebih bijak. Sehingga ketika usia semakin bertambah, hidup akan terasa lebih bermakna dan membahagiakan.

 

 

Penulis : Syahril Syam, ST, C.Ht, L.NLP Pakar Pengembangan Diri

Artikel Pilihan

Cara Membentuk Kebiasaan Berpikir yang Lebih Baik
Pola Pikir yang Membuat Seseorang Sulit Berkembang
Hipnosis Bukan Sihir, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Bangkitkan Kekuatan “Jonimu” dengan Hipnosis dan NLP
Rahasia Menggapai Impian dengan Pikiran Bawah Sadar
Rahasia Pikiran Bawah Sadar: Menguasainya untuk Hidup Sukses
Sugesti Hipnosis untuk Awet Muda
Sugesti Hipnosis untuk Meningkatkan Kemakmuran Finansial

Artikel Pilihan

Senin, 20 April 2026 - 15:46 WITA

Cara Membentuk Kebiasaan Berpikir yang Lebih Baik

Senin, 20 April 2026 - 15:28 WITA

Pola Pikir yang Membuat Seseorang Sulit Berkembang

Selasa, 6 Januari 2026 - 17:13 WITA

Hipnosis Bukan Sihir, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Sabtu, 20 September 2025 - 16:47 WITA

Bangkitkan Kekuatan “Jonimu” dengan Hipnosis dan NLP

Sabtu, 18 Januari 2025 - 17:03 WITA

Rahasia Menggapai Impian dengan Pikiran Bawah Sadar

Artikel Lainnya

Ilustrasi

NLP

7 Tahapan NLP Mengubah Pola Pikir

Selasa, 5 Mei 2026 - 14:28 WITA

Ilustrasi

NLP

Mengenal Terapi NLP dan Teknik Pemrogramannya

Selasa, 5 Mei 2026 - 13:55 WITA