Setiap memikirkan sesuatu, maka sejumlah bahan kimiawi otak akan diproduksi sesuai persis dengan apa yang dipikirkan dan kemudian memengaruhi tubuh agar ikut merasakan persis seperti yang dipikirkan.
Ketika melakukan secara berulang kali apa yang dipikirkan, maka akhirnya menjadi pengalaman. Maka pada saat inilah tubuh kita telah terbiasa dengan perasaan yang dihadirkan tadi.
Sehingga menjadi wajar jika dikatakan bahwa hasil akhir dari pengalaman adalah perasaan. Dan perasaan inilah yang pada gilirannya mendorong kita untuk bertindak sesuai dengan pengalaman tersebut dikala terpicu oleh orang, benda, tempat, waktu, atau peristiwa.
Mari kita lihat contohnya agar lebih mudah memahami pola perasaan kita sendiri. Saat seseorang berpikir bahwa sepertinya merokok itu asyik, maka sejumlah bahan kimiawi otak diproduksi dan membuat ia merasakan seperti yang ia pikirkan bahwa merokok itu mengasyikkan dan perasaan ini tersebar ke seluruh tubuhnya.
Saat ia mengambil tindakan berupa menghisap sebatang rokok untuk pertama kalinya, dan ternyata memang terasa nyaman, maka perasaan itu semakin diperkuat di seluruh tubuhnya.
Hal itu terjadi karena dilakukan berulang-ulang, maka perasaan itupun yang akhirnya menetap pada dirinya. Hasil akhir dari pengalaman tersebut adalah perasaan yang sesuai dengan pengalaman itu.
Sehingga pada gilirannya, perasaan itulah yang mengontrol dirinya agar senantiasa (kecanduan) untuk terus merokok. Perasaan ini biasanya terpicu oleh orang, benda, tempat, waktu, atau peristiwa.
Misalnya disaat selesai makan, akan muncul perasaan bahwa enaknya ini merokok. Disaat bertemu teman, disaat diskusi, disaat stres, disaat bangun pagi, disaat apapun yang dengan itu perasaan tadi terpicu dan menjadi tidak enak rasanya jika tidak segera memenuhi perasaan itu.
Ada sesuatu yang seolah hilang, seolah tidak nyaman, bahkan seolah bukan terasa sebagai diri sendiri jika perasaan itu tidak terpenuhi, yaitu perasaan yang melahirkan tindakan untuk merokok.
Dengan memahami pola perasaan merokok ini, maka akan terpahami mengapa seseorang senantiasa merokok secara rutin. Dengan kata lain telah tercipta pola kebiasaan merokoknya. Karena hatinya telah nyaman dengan perasaan itu, maka kebiasaan itu pula yang akhirnya tercipta.
Pikirannya pun bahkan ikut terbawa arus perasaannya sendiri, sehingga menghadirkan berbagai alasan kenapa ia mesti terus merokok.
Pola perasaan spesifik ini juga menjadi penjelas bagi kita kebiasaan apa saja yang sering kita lakukan saat berhadapan dengan pasangan, saat bersama anak, saat berada di rumah, saat berada di luar rumah, saat sendiri, saat waktu tertentu, saat di tempat tertentu, saat melihat benda tertentu, atau pada saat peristiwa tertentu.
Juga menjadi penjelas kenapa seseorang mesti merasa harus sakit hati terus atau mesti merasa senang terus.
Jadi kita sudah semestinya berhati-hati menciptakan pengalaman-pengalaman baru pada diri sendiri. Mesti secara sadar memilih tindakan dan perilaku seperti apa yang sebaiknya dilakukan. Karena semua itu akan selalu membekas di hati.
Setiap pengalaman spesifik akan selalu menghasilkan perasaan yang spesifik pula. Dan perasaan yang spesik ini pada gilirannya yang mengarahkan semua tindakan dan perilaku kita di masa depan.
Makanya jangan heran, ada orang yang rajin ibadah, tapi rajin pula berbuat keburukan kepada orang lain. Itu karena pengalaman ibadahnya hanya menghasilkan perasaan yang berupa nyaman ibadah semata.
Dimana kalau tidak ibadah, maka akan terasa tidak nyaman kalau tidak dilakukan. Sama persis kalau selesai makan, maka tidak enak kalau tidak merokok.
Karena pengalaman spesifik hanya menghasilkan perasaan yang spesifik pula, maka pengalaman ibadah tadi baru sampai pada level berupa kenyamanan melakukan ibadah. Belum sampai pada level pengalaman yang menghasilkan perasaan mencintai Tuhan.
Karena jika pengalaman ibadah telah sampai pada level cinta, maka perasaan cinta kepada Tuhan pasti akan mendorong seseorang menjauhi apa yang dilarang-Nya.
Pola perasaan yang spesifik ini berlaku untuk setiap pengalaman yang spesifik pula. Makanya setiap pengalaman bisa saja terlihat sama di permukaan, tapi berbeda pada segi level atau derajat pengalaman tersebut.
Dan dari sini pula bisa terpahami mengapa kita mesti menjauhi perbuatan buruk. Karena prinsipnya jelas bahwa setiap pengalaman menghasilkan apa yang terpatri di hati.
Dan setiap pengalaman bersifat spesifik sehingga menentukan pula secara spesifik apa saja yang terpatri di hati.
Dengan mengenali hati kita sendiri, mengenali perasaan yang kita rasakan, maka menjadi jelas mengapa ada topik pembicaraan tertentu yang membuat kita semangat untuk menyimak.
Dan ada topik pembicaraan yang membuat kita menjadi bosan. Membuat kita memahami mengapa hati kita menjadi keras ataupun lembut.
Membuat kita memahami mengapa kita lebih condong menyukai hal tertentu dan tidak menyukai hal yang lain.
Membuat kita memahami mengapa orang, benda, tempat, waktu, atau peristiwa bisa memicu kita untuk merasakan suatu perasaan dan bahkan mendorong kita melakukan tindakan dan perilaku yang sesuai dengan apa yang dirasakan.
Juga membuat kita memahami sampai dimana level pengalaman kita sendiri. Mengetahui dimana level pengalaman ibadah kita.
Mengetahui dimana level kinerja kita dalam kehidupan sehari-hari. Mengetahui dimana level pengalaman yang terkait isi pemikiran kita.
Karena bisa saja seseorang sering berbicara hal-hal yang baik, tapi jika hatinya masih merasa nyaman diskusi dan melakukan hal buruk, maka semua pemikiran baik tadi pada dasarnya belum meresap ke hati; belum mampu mengusir perasaan nyaman ketika mengupas atau melakukan hal buruk.
Karena diskusi hal baik baru sampai pada level kenyamanan mendiskusikan topik itu. Sedangkan isi topiknya (semua hal baik yang dibahas) belum terpatri di hati.
Dengan mengenali hati kita sendiri, mengenali perasaan-perasaan yang sering muncul pada diri kita sendiri, akan membuat kita mengenali pola-pola kebiasaan kita sehari-hari.
Mengenali bahwa sudah sampai dimana level kita dalam hal mengikuti aturan baik, kemanusiaan, dan proses perjalanan kita dalam mendekati Tuhan.






















