Level Kesadaran dan Kenyataan Hidup

Rabu, 27 Desember 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Level Kesadaran dan Kenyataan Hidup

Level Kesadaran dan Kenyataan Hidup

Karena transformasi diri bersifat gradual, yaitu bahwa perubahan dari potensi sempurna menuju aktual sempurna memakan waktu, dan setiap penggalan waktu tersebut menunjukkan tahap-tahap perubahan, maka perubahan diri kita dalam proses menjadi lebih baik dan sempurna pun meniscayakan level-level kesadaran.

Dalam pengalaman menerapi berbagai macam masalah klien, kebanyakan dari mereka digerakkan dan dikontrol oleh emosi marah, dendam, perasaan bersalah, apati, tidak berharga, atau kombinasi dari berbagai emosi destruktif itu.

Mereka tenggelam dan larut ke dalam alam kebiasaan yang destruktif. Dan karena itu level kesadaran mereka, maka kenyataan hidup yang mereka hadapi pun penuh derita batin yang menyiksa.

BACA JUGA :  Sel, Semesta, dan Kesadaran Ilahi

Bawaannya mudah marah, tersinggung, kecewa, dan sakit hati, baik di lingkungan rumah maupun di lingkungan kerja dan masyarakat.

Mereka mengatakan bahwa mereka tidak marah. Namun ketika berbicara tentang orang lain atau suatu hal yang mereka benci, mereka justru bercerita sambil menampakkan kemarahan.

Karena ini level kesadaran mereka, maka seperti ini pulalah kenyataan hidup yang mereka alami.

BACA JUGA :  Dua Jenis Motivasi yang Bersifat Kecenderungan

Mereka ingin bahagia, tapi mereka sendiri yang menciptakan kenyataan hidup penuh derita.

Mereka ingin orang lain, lingkungan, waktu, dan peristiwa berubah agar mereka bisa bahagia, tapi mereka sendiri tidak mau berubah.

Selama level kesadarannya masih di level emosi destruktif, maka selama itu pula mereka sulit merasa tenang dan damai dalam menjalani hidup.

Berbeda halnya jika kita melakukan transformasi pada diri kita. Dimana kita bergerak dari level kesadaran yang rendah dan destruktif ke level kesadaran yang tinggi dan konstruktif.

BACA JUGA :  Terjebak dalam Polarisasi Antara Kesulitan dan Kemudahan

Saat hati kita dipenuhi kasih sayang, rasa syukur, memaafkan, kepedulian, tanggung jawab, dan emosi konstruktif lainnya, maka kenyataan hidup kita pun berubah.

Masalah hidup tidak lagi terasa derita, melainkan dinikmati dan dihadapi. Hati terasa tenang dan damai, walau menghadapi cobaan hidup.

Kegelisahan bukan lagi bersifat destruktif, tapi memicu lahirnya motivasi internal untuk melakukan yang terbaik dalam kehidupan ini.

 

Penulis : Syahril Syam, ST, C.Ht, L.NLP Pakar Pengembangan Diri

Artikel Pilihan

Semua Masalah Pandangan Mata, Soal Rasa Mungkin Sama
Belajar Syukur dari Negeri yang Terluka Perang
Mendobrak Rezeki Uang Berlimpah Lewat Alam Bawah Sadar
Antara Menyerah dan Berserah: Sikap Batin yang Membentuk Takdir
Salah Kaprah Menganggap Semesta Menggerakkan Kejadian Secara Magis
Impian Tercapai Bukan Karena “Semesta Bekerja Magis”
Manifestasi Versi Rasional dan The Secret: Apa yang Sebenarnya Bertemu?
Kita Semua Beruntung dengan Versinya Tersendiri

Artikel Pilihan

Rabu, 15 April 2026 - 12:43 WITA

Semua Masalah Pandangan Mata, Soal Rasa Mungkin Sama

Kamis, 5 Maret 2026 - 00:41 WITA

Belajar Syukur dari Negeri yang Terluka Perang

Selasa, 6 Januari 2026 - 22:10 WITA

Mendobrak Rezeki Uang Berlimpah Lewat Alam Bawah Sadar

Sabtu, 3 Januari 2026 - 16:38 WITA

Antara Menyerah dan Berserah: Sikap Batin yang Membentuk Takdir

Rabu, 24 Desember 2025 - 16:02 WITA

Salah Kaprah Menganggap Semesta Menggerakkan Kejadian Secara Magis

Artikel Lainnya

Ilustrasi

Motivasi

Semua Masalah Pandangan Mata, Soal Rasa Mungkin Sama

Rabu, 15 Apr 2026 - 12:43 WITA

Ilustrasi Stres

Hypnotherapy

Mengapa Kita Kembali ke Pola Lama Saat Stres?

Sabtu, 4 Apr 2026 - 08:45 WITA

Ilustrasi Perang Timur Tengah

Motivasi

Belajar Syukur dari Negeri yang Terluka Perang

Kamis, 5 Mar 2026 - 00:41 WITA

Ilustrasi

Hypnotherapy

Meditasi di Bulan Ramadan, Aman dan Penuh Manfaat

Sabtu, 21 Feb 2026 - 22:30 WITA