Jika direnungkan secara mendalam, maka segala yang maujud hanya terbagi menjadi dua, yaitu kemaujudan yang sifatnya wajib dan kemaujudan yang sifatnya mungkin.
Atau kalau dalam bahasa agama, hanya ada Sang Pencipta dan yang diciptakan. Pencipta dicirikan dengan ketunggalan, sedangkan yang dicipta bersifat majemuk.
Dalam dunia otak dan gelombang otak, stres akan selalu terjadi ketika subjek fokus seseorang terlalu banyak. Semakin banyak yang hal dipikirkan, maka semakin terasa berat.
Dan semakin banyak pula kekhawatiran, kekecewaan, dan kesedihan yang muncul, yang biasa berujung pada kemarahan dan sakitnya hati. Tidak peduli apapun itu, bahkan hal-hal yang bisa membuat senang sesaat, semuanya akan berakhir pada kesempitan hidup.
Uang yang begitu didamba memang bisa menyenangkan ketika berhasil diperoleh. Namun disaat yang sama juga menimbulkan kecemasan akibat takut kekurangan atau kehilangan uang.
Benda, tempat, waktu, dan orang memang bisa membuat perasaan senang hadir jika sesuai harapan. Tapi semakin sering dipikirkan justru semakin membuat kepala terasa pening.
Semua itu berada dalam satu kategori yaitu segala hal yang diciptakan oleh-Nya. Karena bersifat majemuk, maka semakin banyak yang dipikirkan justru semakin stres.
Hidup justru semaikin terasa sempit. Kekayaan dan kemewahan dan segala keinginan duniawi tidak membuat hati menjadi lapang.
Maka wajar jika Al-Qur’an mengingatkan kita bahwa cara ampuh agar tidak akan pernah bahagia dalam menjalani hidup adalah dengan melupakan Sang Pencipta Yang Maha Esa.
“Siapa yang berpaling dari dzikir kepada-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta” (QS 20:124).
Alih-alih tidak bahagia dengan mengingat dan memperhatikan berbagai ciptaan, kita bisa bahagia dengan benar-benar mengingat-Nya dan menghayati dengan sepenuh hati.
Tentu saja semua ini butuh latihan dengan benar-benar tunduk dan patuh hanya kepada-Nya, agar pikiran dan hati senantiasa mengingat-Nya.






















