Ternyata banyak perbuatan zalim yang kita lakukan tanpa disadari. Bahkan ada sebagian orang yang menyadari zalim itu sendiri malah tetap melakukan perbuatan tersebut.
Perbuatan zalim yang sering dilakukan itu mulai dari zalim kepada Tuhan, kepada diri sendiri, kepada mahkluk Tuhan, kepada rezeki, kepada sesama manusia, kepada semesta, kepada kesehatan dan lain sebagainya.
Semua zalim seperti itu terkadang sulit untuk bisa dihindari bahkan tanpa disadari terus dilakukan. Artinya semua manusia memiliki potensi untuk berbuat zalim. Hal itu karena manusia memiliki hawa nafsu.
Itulah mengapa manusia tak bisa terlepas dari sebuah kesalahan. Namun kita bisa mempelajari dan mencoba untuk berbenah agar tidak melakukan kesalahan yang sama dan berulang terus.
Pengertian zalim itu sendiri yakni meletakkan sesuatu atau perkara bukan pada tempatnya. Secara sederhana, kata zalim adalah tidak adil dan kejam.
Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, pengertian zalim adalah tidak memiliki belas kasih.
Dengan artian seorang individu atau kelompok yang menyakiti perasaan orang lain secara lahir maupun batin.
Sifat zalim ini termasuk dalam sifat tercela yang dibenci oleh Tuhan. Jangankan Tuhan, bahkan kita saja terkadang benci akan kezaliman diri sendiri dan kezaliman seorang pemimpin apabila pemimpin tersebut dianggap berbuat zalim.
Ditulisan ini saya tak akan membahas zalim dalam sudut pandang keagamaan, yakni Tuhan, Hewan, dan Zalim kepada manusia. Sebab pembahasan zalim seperti ini sudah banyak dari kita yang memahaminya.
Zalim itu sendiri banyak ragam dan jenisnya dan paling umum yang sering didiengar zalim seorang pemimpin.
Hal yang paling menarik adalah zalim terhadap diri sendiri, kesehatan dan pikiran. Singkatnya dari sudut pandang mindset.
Perlu dipahami bahwa tubuh kita selalu berada dalam keadaan kesetimbangan, yang biasa disebut homeostasis.
Jika merujuk pada definisi, homeostasis adalah proses dan mekanisme otomatis yang dilakukan makhluk hidup untuk mempertahankan kondisi konstan agar tubuhnya dapat berfungsi dengan normal.
Lawan dari zalim adalah adil. Salah satu makna keadilan adalah seimbang sesuai kadarnya. Dengan kata lain, seimbang tidak mesti sama rata.
Yakni, memberikan susu bagi anak kita yang masih bayi dan memberikan ayam goreng kepada anak kita yang berusia 7 tahun adalah bentuk keadilan yang seimbang sesuai kadarnya.
Tubuh kita pun demikian, senantiasa seimbang sesuai kadarnya. Jika kadarnya berubah maka secara psikologis yang terjadi pada diri kita adalah keterlenaan.
Dan keterlenaan ada dua jenis: pertama, terlena ke dalam kecemasan, kemarahan, sakit hati, perasaan bersalah, kesedihan, frustasi, putus asa, dan depresi.
Dan yang kedua, terlena ke dalam kesombongan, iri hati, dengki, ketamakan, kebencian, permusuhan, rasa tidak aman, kesenangan, dan kenikmatan semu.
Ini juga berarti secara psikis, tubuh kita pun mengalami ketidakseimbangan pada dua kondisi, yaitu ketika terlena ke dalam kesulitan, dan ketika terlena ke dalam kesenangan.
Dan karena tubuh kita tidak seimbang sesuai kadarnya, maka pada dasarnya kita telah menzalimi diri sendiri.
Penzaliman terhadap diri sendiri terjadi ketika akal kita atau otak prefrontal korteks kita, tidak menduduki tahtanya sebagaimana mestinya untuk menjadi raja dan penguasa tubuh di dalam mengendalikan berbagai dorongan emosional kita.
Itulah sebabnya, manusia yang benar-benar dikendalikan oleh akal atau oleh prefrontal korteks sajalah, yang bisa berlaku adil pada dirinya sendiri.
Inilah manusia yang berkesadaran atau biasa juga disebut manusia merdeka. Karena tidak dijajah (dikendalikan) oleh dorongan emosional yang berasal dari kenyaman tubuhnya.
Contoh lain dari zalim yakni pada kesehatan yaitu rokok. Merokok secara kesehatan tidak sehat namun tetap dari kita melakukan zalim dengan terus merokok sehingga paru-paru kita tidak menjadi sehat.
Onani atau mastrubasi itu pun bentuk kezaliman bila dilakukan sesering mungkin atau menjadi kebiasaan maka hal itu bentuk penzaliman diri.
Memakan makanan serba pedas, ini pun masuk pada penzaliman diri pada konteks tidak menyehatkan dan berdampak buruk pada kesehatan.
Makan dan minum berlebihan pun juga salah satu tindakan zalim secara tidak langsung.
Begitu pun dengan begadang hingga larut pagi, bila begadang bukan pada konteks kerja atau ibadah. Maka tentu juga akan berdampak buruk kepada kesehatan. Secara tidak langsung kita menzalimi tubuh sendiri.
Ketika nikmat rezeki berkelimpahan secara universal yang Tuhan berikan mulai dari nafas, kesehatan, fisik yang sempurna, uang, dan lain sebagainya. Kita seringkali selalu mengeluh. Ini juga salah satu tindakan zalim secara tidak langsung.
Berpikir negatif atau berprasangka buruk. Dan malas bergerak atau pun olaraga. Ini juga salah satu tindakan zalim secara tidak langsung.
Nikmat dan kebelimpahan Tuhan lainnya seperti matahari yang bersinar, dan hujan yang membasahi bumi, lalu kita keluhkan panas dan beceknya akibat hujan, secara tidak langsung adalah penghinaan kepada Tuhan.
Penghinaan seperti ini secara tidak langsung zalim terhadap nikmat keberlimpahan Tuhan.
Sama seperti memakui pohon-pohon, terlebih pada musim politik banyak pohon-pohon yang dilukai oleh manusia dengan paku sebagai tempat baliho kandidat. Melukai pohon itu juga bentuk kezaliman.
Singkatnya, perbuatan zalim yang tanpa kita sadari tiap hari terus kita lakukan.
Tidak pernah gosok gigi, itu juga zalim pada gigi akhirnya gigi rusak dan sakit gigi.
Tidak pernah perawatan hati yang dilakukan hanya perawatan wajah, itu juga zalim pada hati akhirnya hati menjadi mati.
Tidak pernah perawatan pikiran, itu juga zalim pada pikiran akhirnya kita berpikiran negatif terus dan tidak pernah percaya orang lain lagi.
Diuji oleh Tuhan, kita zalim atas ujian itu akhirnya bunuh diri dan putus asa dari keberlimpahan Tuhan. Ini bentuk penzaliman.
Bakar hutan, membuang sampah sembarangan, terobos lampu merah, adalah bentuk penzaliman kita sendiri.
Dengan zalim zalim seperti yang disebutkan itu maka tugas kita adalah keluar dari kezaliman itu sendiri.
Jika tidak maka akibatnya kita akan dapatkan sendiri, cepat atau lambat zalim itu kembali kepada kita sendiri dalam bentuk penderitaan, kesakitan, bencana, kemalangan, dan laknat Tuhan
Coba pikirkan dan renungkan Zalim apa yang kita lakukan pada diri sendiri?






















