Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, seluruh tubuh manusia tersusun dari DNA yang sama dan memiliki potensi yang sama.
DNA (deoxyribonucleic acid) merupakan asam nukleat yang mengandung materi genetik manusia, misalnya warna rambut, kulit, iris, dan lain sebagainya.
Manusia memiliki masing-masing setengah materi genetik atau kromosom dari ibu dan ayah kandungnya.
DNA itu bersifat aktif dan pasif. Artinya, saat DNA itu membentuk rambut di kepala kita, maka DNA penyusun rambut menjadi aktif dan semua potensi yang ada pada DNA tersebut menjadi pasif.
Akan sungguh lucu jika DNA pembentuk rambut itu aktif bersamaan dengan pembentukan hidung, telinga, mata, atau lainnya pada tempat yang sama. Jika demikian, pada rambut juga bisa ada hidung, telinga, mata, atau bagian tubuh lainnya.
Lantas, bagaimana dengan penyakit?
Kata Kazuo Murakami, penyakit itu sesungguhnya muncul dari DNA yang tiba-tiba aktif dan membentuk sebuah penyakit di dalam tubuh manusia.
Hal ini berarti bahwa untuk menghentikan perkembangan penyakit tersebut, maka kita perlu untuk membuat DNA penyakit menjadi pasif dan mengaktifkan DNA penyembuh di dalam diri kita sehingga perkembangan penyakit tersebut menjadi terhenti dan akhirnya menghilang.
Bagaimana caranya?
Manusia tersusun dari banyak sel. Saat terjadi pembuahan pada ovarium di dalam rahim, awalnya hanya ada satu sel zigot.
Kemudian, sel itu membelah diri menjadi dua sel. Masing-masing dari dua sel ini kemudian membelah dirinya lagi dan demikian seterusnya hingga janin kemudian berkembang menjadi bayi dan seterusnya berkembang menjadi manusia yang sempurna.
Oleh sebab itu, perubahan apapun yang terjadi pada manusia sesungguhnya merupakan perubahan yang terjadi pada sel.
Setiap sel memiliki inti sel dan setiap inti sel mengandung gen yang bentuk fisiknya merupakan urutan DNA dan menjadi bahan genetik mendasar yang mengontrol sifat-sifat makhluk hidup selain menjadi kode tubuh kita.
Perubahan pada gen dapat terjadi karena faktor lingkungan internal berupa emosi, biologis, neurologis, mental, juga spiritual. Dan juga karena faktor lingkungan eksternal (di luar tubuh) berupa peristiwa trauma, suhu, ketinggian, racun, bakteri, virus, makanan, alkohol, dan sebagainya.
Ketika kita memiliki pengalaman baru, mempelajari informasi baru, dan penyembuhan, maka gen-gen akan menghasilkan sintesis protein dan pembawa pesan kimia untuk menginstruksikan sel punca (sel yang belum memiliki fungsi khusus, sehingga dapat mengubah, menyesuaikan, dan memperbanyak diri tergantung lokasi sel tersebut berada) untuk berubah menjadi jenis sel apapun yang dibutuhkan pada saat penyembuhan.
Kita dapat mengubah takdir genetik kita dengan mengaktifkan gen yang kita inginkan dan mempasifkan yang tidak kita inginkan, melalui bekerja dengan berbagai faktor di lingkungan yang memprogram gen kita.
Penting untuk diketahui bahwa pikiran dan perasaan kita yang menghasilkan sejumlah bahan kimiawi merupakan lingkungan eksternal dari sel.
Karena nanti setelah kita berpikir dan merasa, baru kemudian hadir sejumlah pesan kimiawi dari lingkungan luar sel dan menjadi sinyal informasi bagi DNA yang berada pada inti sel untuk melakukan perubahan dan modifikasi yang sesuai dengan sinyal tersebut.
Jika perasaan yang dirasakan adalah perasaan destruktif atau negatif maka perasaan ini menjadi sinyal bagi DNA agar berubah menjadi destruktif dan negatif. Dan hal yang sama juga terjadi saat perasaan kita menjadi konstruktif atau positif.
Dan karena kebanyakan dari kita hidup dalam lingkungan eksternal yang selalu sama dan bersifat rutin, maka perubahan lingkungan internal (perasaan) menjadi hal utama dalam proses perubahan DNA.
Selama rutinitas kehidupan ini dipersepsi secara destruktif/negatif dan melahirkan stres kronis yang berkesinambungan, maka selama itu pula perasaan destruktif/negatif yang hadir dan menjadi pemberi sinyal bagi DNA.
Itu berarti kecemasan, kemarahan, kesedihan akut, rasa bersalah, depresi, dan semua emosi destruktif yang akan menjadi pemberi sinyal yang spesifik bagi DNA. Yang pada gilirannya membuat sel tubuh menjadi semakin rusak dan menimbulkan berbagai macam penyakit.
Hanya ketika sel dinyalakan dengan cara baru, dengan informasi baru, dengan perasaan yang benar-benar konstruktif berupa kasih sayang, memaafkan, cinta, ikhlas, dan perasaan konstruktif /positif lainnya, barulah hal ini menjadi sinyal dalam membuat ribuan variasi gen yang sama untuk menulis ulang ekspresi protein baru; yang pada gilirannya mengubah tubuh kita menjadi sehat dan konstruktif.
Maka menjadi penting bagi kita untuk mempersepsikan semua rutinitas dengan persepsi yang konstruktif/positif agar menghadirkan perasaan yang konstruktif/positif pula.
Penulis : Syahril Syam, ST, C.Ht, L.NLP Pakar Pengembangan Diri






















