Jika Tuhan diibaratkan sebagai sungai, maka hidup adalah perjalanan menuju tepian-Nya. Perjalanan ini bukan tanpa tantangan; ia penuh lika-liku, pahit dan manis, dan sering kali menuntut pengorbanan besar.
Kau harus menyibakkan semak belukar, menyingkirkan bebatuan, bahkan menciptakan jalan setapakmu sendiri di tengah rintangan kehidupan.
Di antara dirimu dan Sang Sumber kebenaran, ada jutaan interpretasi, simbol, dan pemahaman yang membentuk bias demi bias. Manusia dengan tingkat kesadaran yang berbeda-beda telah mengaburkan kebenaran dengan tafsiran mereka. Namun, perjalananmu adalah perjalanan pribadi—jalan setapak yang kau bangun tanpa keraguan, tanpa terikat simbol, tanpa perantara.
Menuju Tuhan yang Satu
Di sepanjang perjalanan, kau lepaskan belenggu benar dan salah, baik dan buruk. Dirimu menjadi bebas, hanya ada kau dan tujuanmu. Kau memahami bahwa Tuhan adalah Tuhan yang Satu bagi semua makhluk, tanpa sekat agama, tanpa syarat, tanpa wujud, tanpa batas ruang dan waktu.
Tuhan adalah singularitas, tempat semua dualitas bersatu. Seperti koin yang memiliki dua sisi, kau melihat keseimbangan dalam setiap pertentangan. Seperti bandul yang berhenti mengayun, kau menemukan harmoni di tengah kekacauan. Pemahaman ini adalah hasil dari perjalanan panjangmu menuju Sang Sumber.
Di Bibir Sungai Illahi
Setelah bertahun-tahun berjalan, kau tiba di tepian sungai itu. Di sana, kau memandang air yang tenang dan melihat bayangan dirimu sendiri. Kau telah mengenali Tuhan dan memahami ciptaan-Nya. Namun, meski kau merasa dekat dengan-Nya, kau menyadari ada sesuatu yang hilang.
Kesendirian mulai menyelimuti. Bertahun-tahun kau berjalan sendiri, dan di tepian ini, tiada siapa pun bersamamu. Apakah kesendirian ini adalah hadiah dari pencapaianmu? Perasaan sepi yang menusuk membuatmu merenung. Lalu datanglah rasa rindu yang tak tertahankan, dan air mata mulai mengalir.
Kerinduan dari Sang Sumber
Saat kau melihat ke dalam air sungai, kau melihat wajahmu sendiri. Namun, di balik pantulan itu, ada sesuatu yang lebih dalam. Rasa sepi dan rindu yang kau rasakan ternyata adalah pantulan rasa dari-Nya.
Dia-lah yang merindukanmu. Kerinduan ini bukan hanya milikmu, tetapi juga milik Sang Sumber. Tuhan merindukan makhluk-Nya seperti makhluk-Nya merindukan Dia.
Awal dari Suatu Akhir
Perjalananmu belum selesai. Tepian sungai ini hanyalah awal dari akhir. Kau telah memahami, dan kini kau siap untuk menguji pemahaman itu. Saatnya menyatu dengan aliran sungai, menjadi bagian dari kebenaran hakiki, dan merasakan harmoni sejati dengan-Nya.
Kerinduanmu pada-Nya adalah panggilan untuk kembali, bukan hanya mengenal, tetapi menyatu. Dan di sanalah, di kedalaman sungai Ilahi, kau akhirnya menemukan jawaban atas semua pertanyaan.
(IA)






















