Ditengah gempuran permasalahan hidup, kita cenderung dikelilingi hal-hal yang memicu diri untuk stres dan bersikap negatif.
Pemicu tersebut mulai dari masalah dengan pasangan, anak yang rewel, beban utang, uang yang menipis, perselisihan dengan teman
Belum lagi pekerjaan yang penuh tekanan dan menumpuk hingga masalah politik juga bisa membuat kebanyakan orang menjadi marah, stres, dan bersikap negatif.
Semua hal pemicu stres itu terus menerus terjadi di sepanjang hari dan di setiap hari.
Jangan heran, banyak orang merasa tidak bisa bahagia. Alih-alih merasa bahagia, yang terjadi justru kemarahan, kekecewaan, kejengkelan, sakit hati, hingga depresi.
Namun sesungguhnya tanpa kita sadari, sebenaranya selalu ada saja hal baik yang terjadi pada kita di setiap hari.
Hanya saja hal baik ini jarang sekali diperhatikan. Sehingga seolah nampak bahwa hanya hal tidak menyenangkan yang selalu terjadi.
Mulai dari kesehatan kita yang masih baik, masih diberi kesempatan hidup, masih bisa makan hari ini, masih bisa tertawa mendengar lelucon sederhana,
Satu lagi pekerjaan yang beres, dapat lagi satu pembeli yang baik hati, berhasil menguasai satu soal sulit, dan hal-hal kecil lainnya yang benar-benar berjalan dengan baik.
Oleh sebab itu, sebelum tidur lakukan latihan bias positif dengan bertanya kepada diri sendiri:
Apa saja yang berjalan dengan baik hari ini?
Apa saja hal baik yang saya temukan hari ini?
Pikirkan dan temukan jawaban atas pertanyaan di atas agar kita bisa merasa bahagia dan nyaman sebelum tidur.
Dan ketika bangun dan saat membuka mata segera katakan kepada diri:
“Terima kasih pada-Mu karena hari ini adalah anugerah yang menyenangkan!”
Pikiran yang disengaja ini akan memicu lahirnya perasaan yang membahagiakan dan melahirkan semangat optimis dalam menjalani hidup di hari ini. Karena setiap hari adalah hari ini.
Dengan membiasakan diri melakukan dua latihan positif di atas (sebelum tidur dan saat bangun tidur), kita telah membuat pola baru di otak.
Kita telah “memaksa” diri kita untuk merasa bahagia dan bersikap positif, alih-alih merasa sebagai korban kehidupan.






















