Ketidaktahuan seringkali diasumsikan sebagai kondisi dimana kita tidak memiliki informasi dan pengetahuan. Sama seperti pada situasi saya yang tersesat di tengah hutan.
Tiga hari saya tersesat di hutan Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara. Sampai akhirnya harus bermalam di tengah kegelapan yang tak berpenghuni manusia.
Ketidaktahuan akan “jalan pulang” membuat saya akhirnya tinggal dalam hutan itu, setelah saya berusaha tiga kali mencari jalan keluar namun ujungnya saya kembali ke tempat yang sama pula.
Coba bayangkan jika anda sendiri dan ada pada kondisi seperti yang saya alami, apa yang anda harus lakukan di tengah hutan yang tak berpenghuni manusia tersebut? Secara psykologis, pikiran tidak akan terkendali, kecemasan dan ketakutan sudah pasti tidak terkendali.
Bayangkan pula di hutan tersebut hal-hal yang bersifat negatif bermunculan mulai dari binatang buas, seperti harimau, ular, sampai kepada mahkluk astral dan suara suara yang menyeramkan.
Di hutan tersebut tak ada makanan, tak ada air, hanya pohon-pohon yang menjulang tinggi tanpa buah. Malam harinya hanya ada bulan yang menerangi serta segerombolan nyamuk yang menemani. Ditambah lagi mobil kehabisan bensin dan tidak bisa jalan lagi.
Jika dengan membayangkan saja terasa berat. Bagaimana dengan saya yang mengalaminya tanpa membayangkan lagi?
Nah, kondisi yang saya alami inilah disebut ketidaktahuan karena kurangnya infromasi, pengalaman dan pengetahuan yang relevan tentang hutan di Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara itu, sehingga saya tersesat dan tidak tahu kemana jalan arah pulang.
Perihal ketidaktahuan bisanya menjadi sesuatu yang tidak kita sadari. Karena ketidaksadaran ini, ketidaktahuan semakin membawa kita kedalam ketidaktahuan yang lebih dalam. Namun bukan berarti kita akan menjadi tidak tahu selamanya. Kesadaran menjadi kunci utama disini.
Kesadaran bahwa kita tidak mengetahui apa-apa, kemudian kita mendidik diri kita sendiri. Pasalnya kita tidak akan pernah menyadari apa yang tidak kita ketahui sampai kita mempelajari apa yang tidak kita ketahui.
Lalu apa yang harus dilakukan?
Tentunya dengan Kesadaran diri. Sebab kesadaran diri adalah salah satu pondasi untuk sebagian besar unsur kesadaran emosional. Ini adalah langkah penting untuk memahami diri sendiri serta perubahan diri.
Kesadaran diri merupakan salah satu ciri yang cukup unik dan mendasar pada diri manusia. Dimana hal itulah yang nantinya akan membedakan individu satu dan individu lainnya.
Kesadaran diri juga merupakan sebuah kesiapan seseorang terhadap peristiwa yang ada di lingkungan sekitar. Serta peristiwa yang bersifat kognitif yang terdiri dari pikiran, memori, sensasi fisik, dan juga perasaan.
Dengan memiliki kesadaran diri semacam itu, anda akan mendapatkan hidup yang lebih bahagia, tenang dalam kondisi apapun.
Kepuasan terhadap hal-hal yang kamu lakukan juga lebih mudah tercapai serta menjadikan ketidaktahuan itu menjadi jalan keluar
Artinya, dengan kesadaran diri, anda lebih mudah menguasai dan mengendalikan emosi bahkan situasi yang terburuk sekalipun. Tenang dalam menghadapi masalah, serta mampu menguasai perasaan yang was-was
Dengan demikian, tidak semua setiap persitiwa yang kita alami itu adalah bersifat “penghukuman” baik faktor dosa, karma, trauma, atau sebab dan akibat.
Sesuatu peristiwa yang terjadi bisa diartikan sebagai makna ilmu, cinta dan rindu agar manusia kembali dan menyapa-NYA.
Jika masalah kecil menyusahkanmu, maka solusinya adalah dirimu harus menghadapi masalah yang jauh lebih besar.
Jika kau selalu mengeluh akan sesuatu yang kecil, maka solusinya adalah kau perlu menghadapi sesuatu yang besar.
Susah hati dikarenakan ukuran hatimu kecil. Maka biasakanlah untuk memiliki ukuran hati yang besar, sehingga tidak ada lagi peristiwa kecil yang akan menyusahkan hatimu.
Bagaimana bila kau rasakan betapa mudahnya hidupmu, ketimbang merasakan susahnya?
Coba bayangkanlah memiliki Rp 10,000 untuk membeli sesuatu yang seharga Rp 25. Bagaimana rasanya?
Jika hanya terbiasa membayangkan memiliki Rp 25, maka gerak atau usahamu pun hanya cukup untuk mendapatkan jumlah itu. Dan sulit untuk menarik yang lebih besar.
Maka Berpikirlah besar. Tempatkan dirimu di lingkungan yang semua sudah sangat terbiasa dengan Rp 10,000.
Jika satu langkahmu adalah Rp 25. Maka berlarilah 1000 langkah dan dapatkan Rp 25,000 -mu.
Dan bila kau harus terjatuh di 100 langkah pertama, kau hanya akan kehilangan Rp 2,500.






















