Bisakah rutinitas (yang baik) kita selalu sama setiap hari, tapi jiwa (diri) kita mengalami kebaruan yang bertransformasi?
Karena seperti yang telah dikemukakan bahwa stres terjadi karena senantiasa mengalami rutinitas yang sama yang selalu menghasilkan perasaan yang sama.
Yaitu perasaan yang memicu hadirnya hormon-hormon stres. Hal ini juga terjadi ketika mengaktifkan memori (mengenang) segala hal yang juga memicu perasaan stres.
Viktor Frankl sangat dikenal sebagai pendiri psikologi eksistensial yang merupakan mazhab ketiga psikoterapi. Selain itu juga dikenal sebagai salah satu yang selamat dari siksaan dan kerja paksa yang teramat menyiksa di kamp konsentrasi.
Frankl bersama yang lain sama-sama menjalani rutinitas dan penyiksaan yang sama. Namun sebagian besar dari mereka memilih bunuh diri karena tidak tahan akan siksaan. Sedangkan Frankl berhasil bertahan hidup. Rutinitas dan penyiksaannya sama, tapi hasil akhirnya berbeda.
Kita pun selalu menjalani rutinitas yang sama setiap hari. Mulai dari ketemu pasangan yang itu-itu saja, ketemu anak, ketemu teman kerja, melakukan rutinitas pekerjaan yang sama.
Mulai dari buka mata di waktu bangun hingga menutup mata di waktu tidur, hampir semuanya selalu persis sama setiap hari.
Maka apakah perasaan kita pun sama saat menjalani rutinitas itu? Apakah merasa bosan, jenuh, sakit hati, kecewa, jengkel, merasa destruktif ataukah merasa bahwa hidup ini indah, merasa semangat, merasa ingin membantu orang lain dan perusahaan, dan merasa konstruktif.
Karena beda pemaknaan dan perasaan, maka beda pula kondisi jiwa kita. Rutinitas boleh sama, tapi sebagian mengalami stres, sedangkan sebagian lainnya justru merasa hidup makin hidup.
Oleh sebab itu, agar bisa keluar dari perangkap stres, maka mesti memiliki pemaknaan dan perasaan yang berbeda.
Pasangan boleh itu-itu saja yang kita saksikan setiap hari, tapi apa yang kita maknai dari pasangan kita. Perasaan apa yang hadir setiap kali membuka mata di pagi hari dan melihat pasangan kita di samping?
Hal yang sama berlaku untuk rutinitas lainnya. Oleh sebab itu, miliki tujuan hidup yang jelas.
Tujuan hidup yang jelas melahirkan semangat hidup. Lihatlah Viktorl Frankl yang punya tujuan hidup berupa ingin ketemu istrinya.
Sehingga setiap hari ia merasakan harapan di hatinya walau mengalami penyiksaan dan kerja paksa yang mengerikan.
Atau lihatlah para pasien optimis yang sembuh karena masih punya keinginan untuk dilakukan; masih punya tujuan yang ingin dicapai.
Karena hidup ini diciptakan dengan tujuan yang jelas, sehingga sebagai manusia pun mesti memiliki tujuan hidup yang jelas.
Melalui tujuan inilah, kita akan memaknai dan merasakan secara berbeda setiap rutinitas yang dijalani.
Kita akan berpindah dari merasa stres setiap hari ke merasa penuh kasih sayang, bersabar, bersyukur, dan berkesadaran demi mengharap ridha-Nya.
Penulis : Syahril Syam, ST, C.Ht, L.NLP Pakar Pengembangan Diri






















